Created by :

Pandji Kiansantang
Since 8 August 2011

Website :
PandjiKiansantang.Com

Email :
pkiansantang@gmail.com

Twitter :
@inspirasipanji

Other Websites :

 

>> PandjiKiansantang.com <<
WebsiteTulisan Inspirasi
Pandji Kiansantang

 

>> QIRSA.com <<

Dakwah Online "Qalbu Islami
Karyawan Summarecon"

 

 

Statistik Pengunjung

Tulisan Sejaman
Sukarno Pancasila (1945) PDF Print E-mail
Buku Sejarah - Tulisan Sejaman
Written by Administrator   
Wednesday, 03 August 2011 04:30

Sukarno Pancasila (1945)

Petikan ini berasal dari Lahirnya Pancasila, suatu pidato yang disampaikan secara spontan pada 1 Juni 1945 di depan Badan Penyelidik Persiapan Kemerdekaan, yang didirikan oleh pemerintah Jepang bulan Maret sebelumnya. Pancasila, yang untuk pertama kalinya diungkapkan dalam pidato ini, kemudian tertulis dalam Mukaddimah UUD 1945 dan diterima sebagai landasan falsafah negara Indonesia. Salah satu usaha keras Sukarno pada waktu itu adalah menentang gagasan didirikannya negara Islam (lihat IVc, Ve, VId serta pengantar untuk Bab VI).

Kita mendirikan satu negara kebangsaan Indonesia.

Saya minta, saudara Ki Bagoes Hadikoesoemo dan saudara-saudara Islam lain: maafkanlah saya memakai perkataan “kebangsaan” ini! Saya pun orang Islam. Tetapi saya minta kepada saudara-saudara, janganlah saudara-saudara salah paham jikalau saya katakan bahwa dasar pertama buat Indonesia ialah dasar kebangsaan. Itu bukan berarti satu kebangsaan dalam arti yang sempit, tetapi saya menghendaki satu nationale staat, seperti yang saya katakan dalam rapat di Taman Raden Saleh beberapa hari yang lalu. Satu Nationale Staat Indonesia bukan berarti staat yang sempit. Sebagai saudara Ki Bagoes Hadikoesoemo katakan kemarin, maka tuan adalah orang bangsa Indonesia, bapak tuan pun orang Indonesia, nenek tuan pun bangsa Indonesia, datuk-datuk tuan, nenek-moyang tuan pun bangsa Indonesia. Di atas satu kebangsaan Indonesia, dalam arti yang dimaksudkan oleh saudara Ki Bagoes Hadikoesoemo itulah, kita dasarkan negara Indonesia.

Satu Nationale Staat! Hal ini perlu diterangkan lebih dahulu, meski saya di dalam rapat besar di Taman Raden Saleh sedikit-sedikit telah menerangkannya. Marilah saya uraikan lebih jelas dengan mengambil tempo sedikit: Apakah yang dinamakan bangsa? Apakah syaratnya bangsa?

Menurut Renan syarat bangsa ialah “kehendak akan bersatu.” Perlu orang-orangnya merasa diri bersatu dan mau bersatu.

Read more...
 
PEMIKIRAN POLITIK INDONESIA PDF Print E-mail
Buku Sejarah - Tulisan Sejaman
Written by Administrator   
Monday, 09 August 2010 02:32

Indonesia  Political Thinking, 1945-1965,
Herbert Feith & Lance Castles, LP3ES, Jakarta, ix+244.


Sukarno Pancasila (1945)

Petikan ini berasal dari Lahirnya Pancasila, suatu pidato yang disampaikan secara spontan pada 1 Juni 1945 di depan Badan Penyelidikan Persiapan Kemerdekaan, yang dididirikan oleh pemerintah Jepang bulan maret sebelumnya. Pancasila, yang untuk pertama kalinya diungkapkan dalam pidato ini, kemudian tertulis dalam Mukaddimah UUD 1945 dan diterima sebagai landasan falsafah Negara Indonesia. Salah satu usaha keras Sukarno pada waktu itu adalah menentang gagasan didirikannya Negara Islam .
Orang dan tempat tidak dapat dipisahkan rakyat dari bumi yang ada dibawah kakinya. Ernest Ranan dan Otto Bauer hanya sekedar melihat orangnya. Mereka hanya memikirkan ”Gemeinschaft”-nya dan perasaan orangnya, ”I’ame et le desir”. Mereka hanya mengingat karekter, tidak mengingat tempat, dan mengingat bumi, bumi yang didiami manusia itu. Apakah tempat itu? Tempat itu yaitu tanah-air.

Tanah air itu adalah suatu kesatuan. Allah s.w.t membuat pada dunia. Kalau kita melihat peta dunia, kita dapat menunjukan di mana ”kesatuan-kesatuan” di situ. Seorang anak kecil pun jikalau ia melihat peta dunia, ia dapat menunjukan bahwa kepulauan Indonesia merupakan satu kesatuan. Pada peta itu dapat ditunjukkan satu kesatuan gerombolan pulau-pulau diantara 2 lautan yang besar, Lautan Pacific dan Lautan Hindia, dan diantara 2 benua, yaitu Benua Asia dan Benua Australia. Seorang anak kecil dapat mengatakan, bahwa pulau-pulau Jawa, Sumatera, Borneo, Selebes, Halmahera, kepulauan Sunda Kecil, Maluku, dan lain-lain pula kecil diantaranya, adalah satu kesatuan.

Demikian pula bukan semua negeri-negeri di tanah air kita yang merdeka di jaman dahulu, adalah nationale staat. Kita hanya dua kali mengalami nationale staat, yaitu di zaman Sriwijaya dan di zaman Majapahit. Di luar dari itu kita tidak mengalami nationale staat.
Nationale staat hanya Indonesia seluruhnya, yang telah berdiri di zaman Sriwijaya dan Majapahit dan yang kini pula kita harus dirikan bersama-sama. Karena itu, jikalau tuan-tuan terima baik, marilah kita mengambil sebuah dasar Negara yang pertama: Kebangsaan Indonesia. Kebangsaan Indonesia yang bulat! Bukan Kebangsaan Jawa, bukan Kebangsaan Sumatera, bukan Kebangsaan Broneo, Sulewesi, Bali, atau lain-lain, tetapi kebangsaan Indonesia, yang bersama-sama menjadi dasar sutu nasionale staat....

Last Updated on Monday, 09 August 2010 03:13
Read more...
 
MENJELANG INDONESIA MERDEKA PDF Print E-mail
Buku Sejarah - Tulisan Sejaman
Wednesday, 28 July 2010 10:45

Kumpulan Tulisan Tentang Bentuk Dan Isi Negara Yang Akan Lahir, Pitoyo Darmo Sugito,
(Jakarta: PT Gunung Agung, 1982), 293.

KEMERDEKAAN TERATUR

Betapa sayangnya bahwa di masyarakat kita di sana-sini masih terdapat beberapa orang yang menjaukan diri dari cita-cita Indonesia Merdeka atau mengotori cita-cita yang suci itu dengan nafsu mencari keuntungan di dalam zaman pancaroba. Orang-orang serupa itu di dalam politik psychologinya merupakan bangkai hidup; ia tak mengenal keluhuran tanah air; darahnya bukan darah kebangsaan. Betapa sayangnya kedudukan orang-orang serupa itu di dalam pembangunan zaman baru. Indonesia medeka dapat disamakan intan terpendam, terpendam dalam batu karang kolonialisme dan meterialisme. Sebelum intan itu dapat diambil, maka batu karangnya harus dipecah belah lebih dulu. Sebelum intan itu dapat digosok, sehingga gemerlap, maka kotoran-kotoran dan sampah-sampah yang masih melekat harus dilempar lebih dahulu. Sudah barang tentu di dalam pekerjaan memecah-belah batu karang dan menggosok intan sampai gemerlap, ada sebagian baik dari kulitnya, maupun dari intannya sendiri akan rontok dan jatuh ke dalam lumpur. Hal ini tidak dapat diabaikan. Apa boleh buat, asal saja intan Indonesia Merdeka itu dapat gemerlap untuk seribu, ya seribu tahun!

Oleh karena susunan masyarakat kita di sana-sini masih menunjukkan sisa-sia kolonialisme dan materialism, maka saya merasa perlu mengingatkan kepada sekalian teman seperjuangan, bahwa kita hendaknya harus lebih waspada terhadap kepada beberapa gelintir orang-orang yang bermuka dua; di muka manis, di belakang menjelekkan. Memang perbuatan pengecut selalu begitu! Dikira, bahwa perbuatannya tidak akan tertangkap. Sungguh bodoh kamu sekalian pengkhianat dan pengecut. Selain dari pengkhianat dan pengecut, di tengah masyarakat terdapat pula orang-orang yang berkepala batu. Meskipun di dalam beberapa hal telah ada penjelasan yang terang benderang, akan tetapi si kepala batu itu tetap tidak mau percaya, malahan bertambah banyak comelan dan sindirannya. Comelan dan sindiran itulah yang sering-sering mengacaubalaukan masyarakat. Comelan dan sindiran hanya untuk mencomel dan menyindir, adalah sama buruknya dengan suatu pelanggaran atas keamanan dan ketenteraman masyarakat. Bagi mereka, si pengkhinat, si pengecut, si kepala batu, pengumuman Pemerintah tentang tindakan-tindakan yang penting menuju ke Indonesia Merdeka tidak ada lain faedahnya, melainkan mereka mendapat kesempatan untuk melanjutkan kejahatannya.

Lain halnya dengan orang-orang di dalam masyarakat yang memang kurang insaf tetapi dengan mata, kuping, dan hati terbuka ingin menginsafkan dirinya dengan menerima penjelasan-penjelasan dan lain-lain keterangan. Kepada golongan-golongan inilah Pemerintah member kesempatan untuk berbicara dengan leluasa tentang arti kemerdekaan. Pemerintah yang bijaksana akan memimpin dan menyehatkan segala pikiran dan pendirian rakyat tentang arti kemerdekaan. Juga rakyat sendiri hedaknya sanggup mempertinggi pikiran tentang hal itu. Kemerdekaan tidak berarti merdeka, yaitu bebas dari segala-galanya, misalnya bebas dari segala aturan, bukan itu. Jika kemerdekaan diartikan demikian, maka kemerdekaan adalah sama artinya dengan kerusuhan alias anarkhi, alias chaos. Memang kemerdekaan menghendaki peraturan, tetapi bukan peraturan yang mengikat keras sehingga kemerdekaan tak dapat bergerak sedikitpun juga. Jika demikian halnya, maka kemerdekaan adalah sama artinya dengan penindasan atau perbudakan. Maka dari itulah, arti kemerdekaan sesungguh-sungguhnya terletak di tengah-tengah kedua arti tadi; di antara arti paling kiri (anarkhi) dan arti paling kanan (perbudakan). Kemerdekaan teratur itulah kemerdekaan yang paling baik, yang akan membawa kita sekalian kepada kebahagiaan dan keadilan.

Paham kemerdekaan teratur menjadi sendi pula dari keputusan Permusyawaratan Asia Timur Raya, beserta Panca Dharma kita. Pembentukan rukun tetangga nagara hanya dapat dilangsungkan dengan kemerdekaan negara yang teratur, yang didasarkan atas paham gotong-royong, baik di dalam negeri antara penduduk-penduduk sendiri, maupun di luar negeri antara tetangga-tetangga kita.

Soekardjo Wirjopranoto

ASIA RAYA, 7 Maret 1945

 

Last Updated on Monday, 09 August 2010 03:17
Read more...
 




Powered by Joomla!. Designed by: gallery2 hosting reseller vps Valid XHTML and CSS.