Created by :

Pandji Kiansantang
Since 8 August 2011

Website :
PandjiKiansantang.Com

Email :
pkiansantang@gmail.com

Twitter :
@inspirasipanji

Other Websites :

 

>> PandjiKiansantang.com <<
WebsiteTulisan Inspirasi
Pandji Kiansantang

 

>> QIRSA.com <<

Dakwah Online "Qalbu Islami
Karyawan Summarecon"

 

 

Statistik Pengunjung

GELORA API REVOLUSI PDF Print E-mail
User Rating: / 1
PoorBest 
Buku Sejarah - Buku Sejarah
Written by Administrator   
Wednesday, 27 August 2014 03:28

Sumber buku :

Gelora Api Revolusi - Sebuah Antologi Sejarah

Colin Wild dan Peter Carey (Editor), Gramedia Jakarta, 1986

 

 

SAAT YANG MENENTUKAN

---Oleh : Prof. Ben Anderson---

Dalam minggu-minggu pertama bulan Agustus tahun 1945 kejadian-kejadian di dunia berkembang dengan begitu cepatnya sehingga tidak seorang pun yang cukup siap untuk menghadapinya. Bom-bom atom yang jatuh di Hiroshima dan Nagasaki dengan sekali pukul menghancurkan kemampuan perang Jepang yang besar dan menyebabkan daerah-daerah yang masih mereka duduki tidak punya pemerintahan yang mantap. Di saat yang membingungkan ini Sukarno dianjurkan untuk secara sepihak menyatakan kemerdekaan. Tanggal 17 Agustus 1945 republik yang sudah lama diidam-idamkan, lahir dan mulai melangkah dengan gugup. Prof. Ben Anderson dari Universitas Cornell melukiskan kejadian-kejadian di bulan yang dramatis itu 40 tahun yang lalu.


Dalam dunia tahun 1980-an, dimana daerah-daerah jajahan gaya lama sebagian besar telah lenyap, sementara lebih dari 160 negara berdaulat diwakili di PBB, kemerdekaan Indonesia tampaknya tidak luar biasa, bahkan kelihatan sudah sewajarnya. Orang mungkin bertanya, dalam keadaan bagaimana yang dapat dibayangkan, maka Indonesia masih menjadi suatu daerah jajahan sekarang ini? Akan tetapi, empat puluh tahun yang lalu, ketika Indonesia masih daerah jajahan pertama di Asia sehabis perang yang memproklamirkan kemerdekaannya tidak ada yang kelihatan kurang wajar atau tidak dapat dielakkan. Sebab, di tahun 1930-an, Belanda dengan mudah telah dapat menguasai 60 juta penduduk jajahan itu dengan kurang dari 40 ribu pasukan yang tidak terlatih baik. Di tahun 1942, Jepang telah merebut daerah jajahan itu hanya dalam beberapa minggu saja, dan tidak menghadapi kesulitan dengan rakyat pribumi untuk masa tiga tahun berikutnya. Apa yang dalam tahun 1945 kelihatan wajar dan tidak dapat dielakkan ialah bahwa situasi kolonial dari masa sebelum perang akan dipulihkan kembali segera setelah Jepang dikalahkan. Justru karena hal ini, orang-orang Indonesia akhirnya dipaksa ikut bersama minoritas rakyat-rakyat terjajah melancarkan peperangan yang banyak menumpahkan darah untuk mempertahankan kemerdekaan mereka. Akan tetapi mereka diberi kesempatan untuk berbuat demikian ialah karena serangkaian keadaan yang pada waktu itu tidak seorang pun dapat meramalkannya.


Pada bulan Mei tahun 1945, masa depan yang dekat dari daerah jajahan itu tampaknya sudah terang dan nyata. Runtuhnya Nazi Jerman menyebabkan kekalahan Jepang tinggal menunggu waktu saja. Jenderal Douglas MacArthur, yang telah merebut kembali Manila dalam bulan Februari, ditugaskan oleh Sekutu untuk menguasai kembali Hindia Belanda. Walaupun negeri Belanda sendiri yang sangat kecil, baru saja dibebaskan dari pendudukan Nazi, para pejabat kolonialnya, yang sudah lama diperbantukan pada MacArthur, memang wajar untuk mempercayai bahwa kekuatan militer Amerika yang perkasa itu akan dapat dengan cepat memulihkan bekas daerah jajahan itu kepada mereka.


Akan tetapi ketika Truman, Stalin, dan Attlee bertemu di Potsdam tanggal 16 Juli, mereka memutuskan karena alasan-alasan yang tidak ada hubungannya dengan Indonesia, bahwa tugas menguasai kembali itu akan diserahkan, mulai dari tanggal 15 Agustus, kepada Komando Asia Tenggara Lord Mountbatten, yang baru saja merebut Rangoon kembali. Para pemimpin Belanda marah sekali dengan perubahan itu. Pihak Inggris benar-benar tidak siap untuk melaksanakan tugas baru itu; di bidang logistik, persoalan yang mereka hadapi sudah terlalu berat; kekuatan militer mereka jauh lebih lemah dibandingkan dengan Amerika; dan mata mereka tertuju, terutama sekali ke Malaya dan Singapura, dan bukan ke Hindia Belanda.


Sementara itu, Tokyo, setelah kehilangan Birma dan Filipina, dan sadar akan kelemahannya di kepulauan Nusantara, memutuskan untuk menawarkan kepada orang-orang Indonesia corak kemerdekaan yang meragukan seperti yang telah diberikannya kepada Birma dan Filipina di tahun 1943, dengan harapan mereka akan dapat memperoleh lebih banyak sokongan aktif dari para pemimpin politik pribumi dan pengikut mereka di kalangan rakyat. Akan tetapi belum sempat keputusan ini diambil. Tokyo mendengar tentang keputusan Moskow untuk mengakhiri kenetralannya dalam Perang Pasifik dan akan menyerbu Manchuria. Oleh karena itulah maka pada tanggal 29 Juli pemerintah Jepang menginstruksikan kepada penguasa di Asia Tenggara, Marsekal Terauchi, di markas besarnya di Saigon, untuk mengatur pengumuman dibentuknya sebuah panitia untuk mempersiapkan Kemerdekaan Indonesia begitu Rusia bergerak.


Demikianlah tanggal 7 Agustus, hanya beberapa jam sebelum Uni Sovyet mengumumkan perang, Terauchi mengeluarkan pengumumannya, tidak sadar sama sekali bahwa seluruh Perang Pasifik akan berakhir dalam waktu seminggu. Sehari sebelumnya, tanggal 6 Agustus, sebuah bom atom Amerika telah melenyapkan Hiroshima dari permukaan bumi, dan setelah itu tidak seorang pun yang memberikan perhatian kepada Hindia Belanda. Akan tetapi di daerah yang jauh dari Jepang, di daerah khatulistiwa, Terauchi terus menjalankan instruksi-instruksi usang. Pada pagi hari tanggal 9 Agustus, ketika Nagasaki diubah menjadi abu, dua tokoh politik nasionalis Indonesia yang paling terkenal, Sukarno dan Hatta, diterbangkan ke Saigon. Tanggal 11 Agustus, Terauchi dengan resmi mengangkat mereka sebagai ketua dan wakil ketua panitia persiapan itu pada sebuah upacara di villanya yang mentereng di daerah peristirahatan pegunungan Dalat, yang merupakan Istana Cipanasnya orang Prancis ketika mereka berkuasa di Vietnam. Dengan tenang dan tanpa menghiraukan kenyataan kedua pemimpin itu kemudian diterbangkan kembali pulang, dengan singgah semalam di Singapura guna mengambil tiga orang Sumatra untuk menjadi anggota Panitia Persiapan itu. Demikianlah mereka mendarat di Jakarta di hari yang sama dengan setujunya pemerintah Jepang untuk menyerah tanpa syarat kepada Sekutu tanggal 14 Agustus.


Jadi begitu cepatnya terjadi peristiwa penyerahan Jepang itu sehingga Mountbatten, yang direncanakan menjadi pembebas Hindia Belanda, masih berada di tempat yang jauhnya beribu-ribu mil. Lagi pula, ia diperintahnkan untuk tidak menerima penyerahan diri secara setempat oleh pihak Jepang di Asia Tenggara sampai MacArthur telah melakukan hal demikian di Tokyo sendiri- yang baru terjadi tanggal 2 September. Akan tetapi, khawatir jika sementara itu para panglima Jepang yang putus asa dan menaruh dendam di Asia Tenggara mungkin akan mencoba menimbulkan keadaan-keadaan fait accompli di bidang politik, Mountbatten mengirimkan perintah-perintah tegas melalui radio kepada mereka agar membekukan status quo politik di mana saja – dengan ancaman hukuman berat bagi setiap pelanggaran.


Di Jakarta, cepatnya Tokyo menyerah merupakan suatu peristiwa yang sangat menggoncangkan bagi para perwira Jepang. Seperti dikatakan oleh seorang di antara mereka kemudian, tak ubah perasaannya seperti seorang penumpang kereta api cepat yang dengan tiba-tiba direm mati. Akan tetapi keputusan-keputusan harus diambil mengenai bagaimana menanggapi perintah Mountbatten. Bagi para perwira yang langsung bertanggung jawab atas pemerintahan, tampaknya adalah bijaksana untuk menurut dengan patuh: nyawa mereka sendiri, dan masa depan Kaisar serta Negara mereka, tampaknya jadi taruhan. Akan tetapi, dalam kedudukan-kedudukan yang kurang diketahui oleh umum, dan yang bersimpati dengan aspirasi nasional rakyat Indonesia, merasa bahwa Jepang akan kehilangan kehormatannya untuk selama-lamanya apabila kemerdekaan yang telah dijanjikannya kepada Indonesia kini dibatalkan dengan begitu saja. Yang terpenting peranannya di antara mereka adalah Laksamana Madya Maeda yang cerdas dan berpikiran liberal, yang sebagai kepala kantor penghubung Angkatan Laut Jepang di Jakarta mempunyai kontak tidak resmi yang luas di kalangan kaum nasionalis Indonesia.


Pada tanggal 15 Agustus, berita tentang menyerahnya Jepang tanpa syarat pada umumnya sudah diketahui, tidak hanya di kalangan para pemimpin nasionalis Indonesia yang punya kedudukan, tetapi juga di kalangan pemuda. Para pemuda militan ini, yang selama berbulan-bulan telah mengikuti siaran-siaran radio tentang kemenangan-kemenangan militer pihak sekutu yang semakin mendekati Tokyo, dan telah menjadi semakin tidak sabar dengan cara para pemimpin mereka yang lebih tua secara pasif menerima saja politik-politik Jepang, kini memutuskan untuk bertindak. Malam itu, sebuah delegasi pemuda mendatangi rumah Sukarno, menuntut agar dia beserta Hatta menyatakan kemerdekaan nasional dengan segera – tanpa keterlibatan orang-orang Jepang yang sudah kalah. Akan tetapi khawatir akan tindakan penumpasan dengan jalan kekerasan oleh pihak Jepang, kedua pemimpin itu menolak, dengan mengemukakan sebaliknya, yaitu mereka harus berusaha melalui panitia Terauchi. Marah dan kecewa, delegasi itu pergi untuk bergabung dengan rekan-rekan mereka.


Beberapa jam kemudian Sukarno dan Hatta dibangunkan dari tidurnya, didorong masuk ke mobil yang sudah menunggu, dibawa ke Rengasdengklok, di timur laut Jakarta. Para pemuda penculik itu kembali memaksa Sukarno-Hatta untuk memproklamirkan kemerdekaan, akan tetapi mereka kembali menolak. Sementara itu Kempetai (Polisi Militer Jepang) yang sangat ditakuti itu telah mulai melakukan pencarian terhadap kedua pemimpin yang hilang itu.


Pada saat inilah, di pagi hari tanggal 16 Agustus, Laksamana Maeda melakukan campur tangan yang menentukan. Dengan menggunakan kontak-kontak pribadinya, ia berhasil mencapai kelompok di Rengasdengklok dan merundingkan pengembalian Sukarno dan Hatta dengan menjanjikan suatu pernyataan kemerdekaan yang sungguh-sungguh dan menjamin keselamatan fisik dari para penculik itu. Dengan mengemukakan kemungkinan pecahnya keribuatn yang ganas apabila mereka tidak bersikap luwes, Maeda berhasil membujuk para penguasa militer Jepang untuk memperbolehkan adanya suatu pernyataan kemerdekaan, dengan syarat bahwa bunyi kata-katanya harus dapat diatur sedemikian rupa sehingga tidak terang-terangan menentang perintah Mountbatten. Susunan bahasanya yang terakhir, yang dikerjakan di rumah Maeda malam itu, adalah sebagai berikut: “Kami, Bangsa Indonesia, dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain akan diselenggarakan dengan cara saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya”. Bagi para penguasa Jepang yang bertanggung jawab, anjuran yang terkandung dalam kata-kata singkat yang tidak dramatis ini adalah: “Teruskan, jangan menyebutkan penyerahan kedaulatan- dan jangan ada huru-hara!” pada jam 10.00 pagi tanggal 17 Agustus, di pekarangan kecil di rumah kediamannya sendiri, Sukarno membacakan proklamasi kemerdekaan yang agak janggal itu, sementara bendera nasional Indonesia sang saka merah-putih dinaikkan di sampingnya. Dalam beberapa jam saja para pemuda aktivis telah menyiarkan proklamasi itu melalui pemancar – pemancar radio dan berita-berita kawat. Esoknya para anggota panitia persiapan itu, yang kini menyebut dirinya Panitia Nasional Indonesia, memilih Sukarno dan Hatta sebagai presiden dan wakil presiden Republik Indonesia yang baru lahir.


Enam minggu sudah berlalu, barulah apa yang disebut sebagai pasukan-pasukan pembebasan Mountbatten tiba. Sementara itu, berkat keberanian para pemuda, usaha penengahan Maeda dan kebijaksanaan Sukarno dan Hatta, kekuasaan yang sunguh-sungguh berangsur-angsur indah ke t angan orang-orang Indonesia. Dalam suatu pergolakan yang luar biasa yang sebagian besar terjadi dengan spontan, kemerdekaan diproklamirkan dari kota, dari desa ke desa, tidak lagi dengan kata-kata yang meragukan dari tanggal 17 Agustus, tapi dalam bahasa revolusi nasional yang penuh semangat: “Merdeka atau Mati”. Kesatuan-kesatuan militer latihan Jepang, yang terpaksa dibubarkan setelah tanggal 18 Agustus atas tuntutan Sekutu, dengan cepat dan bebas menyusun diri kembali di tempat masing-masing. Dimana-mana orang-orang Jepang yang patah semangat atau yang bersimpati menyerahkan senjata mereka kepada para pemuda militan. Demikianlah ketika orang-orang Inggris – yaitu para perwira Inggris dan pasukan-pasukan India serta Gurka- akhirnya muncul pada akhir bulan September berikut sejumlah kecil pejabat Belanda, mereka kaget harus menghadapi suatu perlawanan revolusioner bersenjata. Diperlukan pertempuran kejam selama tiga minggu dan nyawa seorang jenderal Inggris untuk menguasai Surabaya. Setelah itu Mountbatten, yang juga sibuk dengan Birma dan Malaya, kehilangan semangat untuk memaksakan kembali penjajahan Belanda dengan menggunakan tentara Inggris.


Akan tetapi, Belanda dihadapkan dengan kehilangan Hindia Belanda- salah satu jajahan terbesar dan terkaya di dunia – tetap bertekad untuk bertahan. Diperlukan empat tahun pertempuran yang terputus-putus untuk akhirnya mengubah pikiran mereka. Orang-orang Indonesia tidak akan pernah melupakan bahwa kemerdekaan mereka telah dibayar mahal dengan darah- walaupun mereka tidak selalu mengaki betapa beruntungnya karena harga itu tidak lebih mahal. Itulah sebabnya mengapa kata-kata yang tidak heroic dan berhati-hati yang diucapkan Sukarno tanggal 17 Agustus 1945, masih dapat membuat air mata mereka bergenang.

 

 


PENULISAN PROKLAMASI

---Oleh Saksi Sejarah : Adam Malik, Wangsa Wijaya & Shigetada Nishijima---

 

Kejadian-kejadian pada tanggal 15, 16, dan 17 Agustus 1945, seperti yang diketahui oleh setiap anak sekolah, adalah peristiwa-peristiwa yang paling penting dalam sejarah Indonesia. Tidak banyak orang yang menyaksikan kejadian-kejadian  ini, akan tetapi tiga orang diantara mereka sekarang menceritakannya dengan kata-kata mereka sendiri. Adam Malik adalah seorang pemuda aktivis, yang kemudian akan menjadi seorang tokoh utama dalam kehidupan politik bangsanya. Shigetada Nishijima, sebagai pembantu dan penerjemah bagi Laksamana Maeda dan sebagai orang yang bersimpati dengan nasionalisme Indonesia, sama-sama duduk menghadapi meja bersama para pemimpin nasionalis pada waktu naskah proklamasi itu dibuat. Ia berbicara kepada kami di tempat kediamannya di Tokyo. Dr. Hatta mempunyai seorang pembantu pada waktu itu- seorang pemuda anggota Putera dan Jawa Hokokai. Orang ini, Wangsa Wijaya, juga berada di rumah Laksamana Maeda pada malam tanggal 16 Agustus. Kami berbicara kepadanya dekat Tugu Proklamasi di Jakarta, tempat di mana kata-kata yang masyur itu mula-mula diucapkan dihadapan umum.

 

Tanggal 17 Agustus 1945 kata-kata yang paling masyur dalam sejarah Indonesia modern diucapkan di hadapan sejumlah kecil patriot-patriot terkemuka. Dalam pembicaraan ini tiga orang menggambarkan apa yang mereka saksikan sendiri pada tanggal 15, 16, dan 17 Agustus 1945 peristiwa-peristiwa yang menjurus disusun dan diucapkannya kata-kata yang bersejarah itu. Pertama-tama mendiang Adam Malik menceritakan bagaimana pimpinan republic mengetahui tentang kekalahan Jepang.


Saya bekerja di kantor berita Domei sehingga semua kawat-kawat yang datang dari Tokyo itu disalin ke dalam bahasa Inggris dan disiarkan, baik oleh kantor berita ini maupun yang diambil oleh Sekutu. Kalau yang dari Sekutu tentu tidak boleh disiarkan, top secret, hanya diberikan kepada orang-orang pimpinan Jepang. Jadi kita di Domei banyak membaca berita-berita yang obyektif. Tetapi kita mengeluarkan, Domei mengeluarkan bulletin nanti, mengeluarkan sebaliknya. Jadi kalau dia kalah di Guadalkanal, nanti dibilang pertempuran hebat di Guadalkanal, kalahnya tidak dikasih tahu. Kita sudah tahu dia kalah toh. Karena mereka membom Hiroshima. Atomnya tidak dibilang. Kira-kira begitu. Jadi kita sudah mempersiapkan ini sehingga pada waktu Jepang sudah sampai akhirnya, timbullah dua pikiran di dalam kalangan pemimpin, jadi Bung Karno dipanggil dengan teman-teman Bung Karno ini ke Saigon oleh Laksamana Terauchi. Setelah Bung Karno kembali dari Saigon, dia gembira karena Marsekal Terauchi menjanjikan bahwa kemerdekaan Indonesia boleh diproklamirkan dalam masa tidak lebih dari tiga bulan. Dan itu pada bulan Juli, jadi perhitungan pada waktu itu September. Saya dan teman-teman yang mengikuti perjuangan dan peperangan ini sejak bulan Mei pun kita sudah tahu bahwa Jepang dimana-mana mundur, mundur, mundur, di semua front. Karena itu, klimaksnya kita mendengar waktu serangan bom ke Jepang, Hiroshima dan Nagasaki. Itu pada permulaan Agustus saya kira. Kita mendesak kepada Bung Karno dan Bung Hatta supaya segera memproklamirkan kemerdekaan diluar keinginan Jepang. Dan pada waktu itu mereka mengatakan tidak bisa, Jepang tidak akan mungkin kalah, lebih baik kita tunggu instruksi dari Tokyo mengumumkan. Kita boleh mempersiapkan tapi tidak boleh mengumumkan. Kita bertentangan itu, kita ingin diumumkan, sebab kita berpendapat kalau Jepang yang mengumumkan itu, itu sudah melanggar tugas Jepang dari Allied Command, tidak boleh. Kalau kita mengumumkan sekarang dunia akan tahu bahwa kita tidak merdeka karena instruksi dari Tokyo, nah itu pertentangannya. Mereka tidak mau, akhirnya kita ambil keputusan kalau sampai itu tanggal 12 malam atau 13, kalau sampai besok Bung Karno masih hesitate, masih ragu, dan Bung Hatta, lebih baik kita bawa dia, jadi kita siapkan di Rengasdengklok, dan kita bawa kesana. Sebenarnya 15 Agustus itu kita mau proclaim kemerdekaan. Waktu kita bawa dia disana, dia marah-marah, sama Hatta, sebab dipaksa toh. Waktu disana baru dia merasa, ada kesalahan, jadi Bung Karno bilang kalau betul Sekutu sudah mengalahkan Jepang dan kalau betul Jepang sudah surrender akan umumkan, tapi siapa yang bisa meyakinkan saya. Kita panggil orang Jepang yang paling tinggi pangkatnya. Pada waktu itu Bung Karno minta Somubucho. Somubucho itu Kolonel Nakayama. Tentu tidak mungkin, sebab dia dari Angkatan Darat. Jadi kita pilihlah Laksamana Maeda, dia dari Navy, dan hubungan navy lebih dekat karena Mr. Subardjo, yang juga ikut bersama kita itu bekerja di Navy. Jadi, kembalilah kita bawa Bung Karno dari Rengasdengklok ke rumah Laksamana Maeda, dan disana Laksamana Maeda terangkan kepada Bung Karno dan Hatta memang kita sudah kalah. Jadi, yah, sekarang saya tidak bisa apa-apa, Jepang tidak bisa berbuat apa-apa, terserah kalau pemuda-pemuda dan rakyat Indonesia proclaim. Dia belum mau juga malam itu. Dia minta ketemu sama Gunsekanbu, itu General Nakayama atau Sobung-buco, dan yang mau menerima dia dari Angkatan Darat satu, dan mengatakan yah kita harus patuh kepada sekutu, jadi kita tidak boleh mengijinkan orang Indonesia proclaim kemerdekaan. Kan sudahlah, berbeda toh, dari janji Saigon berbeda, nah sekarang berbeda. Karena itu kita paksa Bung Karno. Pagi besok musti diproklamirkan, jadi tanggal 17 pagi, malam itu kita siapkan di tempatnya Laksamana Maeda, teks proklamasi itu, very simple. Paginya itu yang dibacakan di rumah Bung Karno di Pegangsaan.


Itu tadi mendiang Adam Malik. Kekalahan Jepang menempatkan pasukan-pasukan pendudukan di Indonesia dalam suatu kedudukan yang serba salah. Shigetada Nishijima punya hubungan erat dengan pihak Jepang dan kaum nasionalis. Ia menguraikan tentang apa yang terjadi pada tiga hari yang bersejarah ini seperti yang disaksikannya.


Tanggal 15 Agustus kapitulasi diumumkan oleh Kaisar, Tenno sendiri. Pada waktu itu memang sudah psikologi daripada orang Jepang yang di Jakarta atau di Indonesia itu pada umumnya sudah simpang siur. Yah semua orang hamper sudah putus asa, ada yang sampai hara-kiri dan sebagainya. Pada waktu itu sudah diberi perintah dari Sekutu, bahwa status quo harus diarahkan, kalau status quo itu artinya kita tidak bisa berbuat apa-apa. Jadi mereka terlalu sibuk, sehingga mereka tidak bisa menerima Sukarno sama Hatta. Jadi, tiga orang, sebagai juru bahasa saya, saya dipanggil, pergi ke Tuan Maeda. Lantas mereka menanya kepada Tuan Maeda yaitu ditanyanya, pertanyaan itu dikemukakan oleh Insinyur Sukarno, apakah kabar ini betul atau tidak. Pada besok harinya tanggal 16, paginya saya dipanggil Tuan Maeda. Mr. Subardjo pergi ke Tuan Maeda, bilang sama dia bahwa Sukarno sama Hatta tidak ada. Mungkin sekali ditangkap oleh Angkatan Darat. Penjagaan keamanan toh. Jadi saya disuruh oleh Tuan Maeda, sekaranglah saudara, kamu harus mencari di mana ada dua orang ini. Karena keadaannya begitu genting. Padahal orang-orang pemimpin-pemimpin tidak ada, nanti ada suatu clash antaranya pihak Indonesia sama Jepang, dia bilang begitu. Saya kenal banyak pemuda-pemuda selalu mengatakan bahwa kita tidak mau terima kemerdekaan sebagai hadiah daripada pihak Jepang. Banyak orang yang bilang, antara Chairul Saleh, Sukarni, Adam Malik, B.M. Diah, Wikana, dan sebagainya. Terus saya cari sama Saudara Wikana, saya bilang begini, saya sudah kenal lama sama saudara, dan juga saya selalu mau jadi jembatan antara dua bangsa, kenapa tidak percaya sama saya. Lantas setelah itu mereka pergi ke Rengasdengklok, dimana Sukarno sama Hatta diculik oleh pemuda. Saya tidak ikut pergi ke sana. Tapi akhirnya mereka, Insinyur Sukarno, Drs. Mohammad Hatta, Mr. Subardjo diantarkan oleh dua orang, Chairul Saleh sama Sukarni, diantarkan kepada rumahnya Tuan Maeda. Mr. Subardjo bilang sama saya, saya janji bahwa proklamasi harus diumumkan malam ini. Jika tidak, saya punya leher dipotong, katanya. Lantas Tuan Maeda juga omong-omong, janganlah pemuda, kita mengerti kemauannya, tapi jangan berbuat yang begitu macam, dan sebagainya, omong-omong terus, tapi mereka tidak mau toh. Hampir-hampir jam 12.00 malam, Tuan Sukarno bilang sama Sukarni janganlah berontak. Lantas Tuan Sukarni berdiri dan saya ikut, sama saya Trimurti, bertiga, terus pergi ke luar untuk menenteramkan persiapannya, dan sampai pergi ke radio station, waktu itu sudah ada Kenpetainya jaga, kami hampir semua ditangkap, tapi dilepaskan karena saya telepon sama Tuan Maeda. Dan setelah itu pulang ke sana masih belum juga bicaranya tidak habis. Tuan Maeda pada waktu itu telepon sama Tuan, Mayor Jenderal Tuan Yamamoto, suruh datang kemari, tapi dia tidak mau. Dia panggil Saito, tapi, bekas Duta Besar di Indonesia itu, tapi dia tidak mau juga. Jadi disuruh datang Mayor Jenderal Nishimura, yang jadi pergi ke sana. Tuan Maeda mengantarkan Sukarno-Hatta. Tiga pergi ke rumahnya Tuan Nishimura. Sikapnya Tuan Nishimura itu adalah Jepang itu tidak bisa lagi berbuat apa-apa karena status quo perintahnya. Terus pergi ke sana. Pergi lagi ke rumahnya Tuan Maeda, lantas kita satu pembicaraan di ronde taffel, meja bundar. Lantas setelah itu bicara, bicara, lama sekali, tapi tidak bisa bikin apa-apa, sampai, yah akhirnya sudah tahulah bagaimana proklamasi itu. Ini adalah sketch-nya daripada rumah Tuan Maeda. Ini adalah ruang  makan, yang ini, bundar, di sini duduk Tuan Maeda, Tuan Sukarno, Tuan Hatta, Subarjo, saya sendiri, Tuan Yoshizumi, dari Angkatan Darat, bicara begitu bagaimana teksnya daripada proklamasi. Pemuda ada di luar, Sukarni, Chairul Saleh dan sebagainya. Pemuda memintanya agar supaya teks itu bunyinya keras, artinya hebat. Mau merebut kekuasaan daripada Jepang. Padahal saya sendiri sebagai pihak Jepang, apalagi saya tahu sedikitnya international law, jika pihak Jepang mengakui bahwa menyetujui teks itu akan kita dimarahi oleh Sekutu. Jadi kata-kata itu harus dirumuskan jadi sehingganya ada perubahan-perubahan. Perubahan itu, ini penyerahan, dikasihkan, atau itu diserahkan, itu tidak bisa. Penyerebutan, itu juga kita tidak mau mengakuinya. Jadi sehingganya disini diadakan pemindahan kekuasaan. Begini nantinya ditulisnya juga diusahakan. Kalau usahakan itu soft, terlalu soft. Itu Sukarno sendiri diselenggarakan dia tulisnya. Padahal pihak Indonesia juga tidak mengakui bahwa itu dicampuri tangan oleh Jepang. Saya mengerti karena saya sendiri juga ditangkap oleh Belanda lagi. Diperiksa mengenai soal ini. Waktu itu Tuan Maeda pun juga saya sendiri tidak mengakui bahwa saya ikut serta dalam soal itu, karena apa, waktu itu pemerintah Belanda mau mencap proklamasi itu bikinan Jepang, karena tanggalnya juga tulis ’05 toh. ’05 artinya tahunJepang, bukan ’45, ditulisnya ’05. Jadi hal ini saya rasa juga, saya merasa juga pihak Indonesia ya, bahwa soal proklamasi itu betul-betul juga bersejarah kan. Jadi mereka tidak mau mengakui bahwa yang orang Jepang mencam puri tangan dalam hal itu.


Itulah Shigetada Nishijima. Salah seorang pemuda remaja yang hadir di pagi hari tanggal 17 Agustus ketika proklamasi dibacakan oleh Sukarno, adalah sekretaris Mohammad Hatta, Wangsa Wijaya, berbicara kepada kami di tempat dimana peristiwa itu dahulu berlangsung.


Saya bekerja di Putera, terus bekerja di Hakokai, tapi juga membantu Dr. Hatta. Dan karena itu, malamnya sebelum proklamasi saya ikut juga menyaksikan di rumahnya Laksamana Maeda, saya ada juga disana. Mengenai keadaan, semuanya pemuda pada kumpul dan saya menyaksikan ditandatanganinya proklamasi oleh Ir. Bung Karno dan Bung Hatta. Dan sebelum proklamasi ditanda tangani Bung Hatta meminta kepada yang hadir supaya proklamasi itu ditandatangani oleh semua yang hadir. Tapi tidak ada yang berani, tidak ada yang mau menandatangani. Kebetulan ada salah seorang kawan saya, Saudara Sukarni, minta supaya proklamasi itu hanya ditanda tangani oleh Bung Karno sama Bung Hatta saja. Jadi hanya dua orang itu yang menandatangani. Kemudian pada waktu itu juga diminta oleh Bung Karno besoknya hari Jumat, tanggal 17 Agustus, semua kumpul jam 10.00, di rumah Bung Karno, di sini, pegangsaan Timur 56. Pagi-pagi jam 9.00 kami sudah kumpul disini, dan jam 10.00 kurang 10 datang Dr. Hatta, Bung Hatta, datang ke sini. Jam 10.00 proklamasi dibacakan oleh Bung Karno setelah pidato sedikit, Bung Karno, terus diumumkan proklamasi. Keadaan memang agak tegang waktu itu. Tegang karena Jepang sewaktu-waktu bisa menyerbu, tapi kami semuanya sudah bersiap untuk menghadapi segala kemungkinan. Ada 30 orang disini kumpul. Di gedung itu kan, di luar ada juga pelopor, yang dipimpin oleh Saudara Sudiro waktu itu. Dan jam 11.00 kami sudah bubar. Kami itu sangat tegang sekali, tapi kami semuanya sudah bersedia berkorban kalau perlu.

 

 

PEMUDA REVOLUSI

--- Oleh : Dr. Anton Lucas ---


Tahap –tahap terakhir perjuangan, setelah ambruknya kekuasaan Jepang, merupakan cerita interaksi antara diplomasi dan peperangan. Akan tetapi di belakang kaum politisi dan para prajurit professional terdapat massa pemuda yang tidak sabar yang mendesak generasi yang lebih tua agar maju dengan semboyan “merdeka atau mati”. Dr. Anton Lucas dari Universitas Flinders di Australia melukiskan pengaruh dari para pemuda revolusioner.

Jauh sebelum tahun 1945, yaitu sejak Sumpah Pemuda tahun 1928 para pemuda sudah “menyediakan api” yaitu api kemerdekaan Indonesia. Kegiatan-kegiatan di zaman Jepang sebenernya merupakan kesinambungan dari pergerakan nasional yang dimulai pada tahun 1920-an. Pada waktu zaman Jepang, para pemuda terutama di kota-kota besar mendapat kesempatan yang luas untuk bergerak. Bagi pemuda, bukan pikiran tetapi pengalaman yang menjiwai tindakan mereka.


Suatu adegan di Jakarta tepatnya pada tanggal 6 Juli 1945 menjelang kekalahan Jepang cukup menunjukkan pandangan dan sikap pemuda yang sangat berbeda dengan generasi pimpinan tua sebelumnya. Untuk pertama kalinya pemuda seperti Chairul Saleh, Wikana, B.M. Diah, Adam Malik, Bung Tomo, S.K. Trimurti, dan Asmara Hadi dimasukkan sebagai pemimpin dalam organisasi baru yang namanya Gerakan Rakyat Baru atau GRB. Di dalam rapat pembentukan anggaran dasar GRB pimpinan pemuda ingin mencantumkan kata-kata “Republik Indonesia” di dalam pasal-pasalnya, tetapi ditolak oleh generasi tua yaitu Sukarno, Hatta, Subardjo, Mohammad Yamin, dan Abikusno yang tidak bisa menerima tuntutan mereka. Pemuda ternyata kalah suara sehingga meninggalkan rapat dan protes bahwa mereka tidak akan ikut serta di dalam organisasi GRB lagi. Api semangat revolusioner sudah mulai menyala.


Sesudah proklamasi pemudalah yang meneruskan nyala api proklamasi, api pertempuran dengan Jepang dan Inggris, api revolusi social, api yang menuntut “seratus persen merdeka”, tanpa berunding, tanpa diplomasi, “merdeka atau mati”, api kebebasan pribadi.


Di satu pihak, tindakan pemuda di Jakarta pada waktu itu memang didorong oleh prinsip “tidak mau kemerdekaan itu sebagai hadiah Jepang”. Sedang di lain pihak pemimpin generasi tua Sukarno – Hatta yang selalu berhati-hati dan menunggu sikap gunseikan, atau pemerintahan militer Jepang itu, pada tanggal 15 Agustus diculik oleh pemuda dan dibawa ke Rengasdengklok di luar Jakarta.


Peristiwa penculikan Sukarno – Hatta ini telah menjadi contoh bagi gerakan pemuda di kota-kota di seluruh Jawa. Di daerah , generasi tua pada umumnya diwakili oleh pejabat-pejabat pemerintah yang dulunya pejabat Pangreh Praja oleh karenanya sikap keragu-raguannya terhadap proklamasi tercermin dalam sikap mereka. Ada yang menunggu kedatangan Sekutu, ada yang menunggu “majikan lama” yaitu Belanda untuk kembali lagi. Malahan ada yang menunggu pengumuman resmi gunseikan bahwa Jepang sudah menyerah secara resmi kepada Sekutu. Padahal pengumuman ini tidak pernah datang. Golongan ini masih ketakutan akan tindakan Jepang apabila mereka harus menurunkan bendera Hinomaru Jepang. Pemudalah yang memaksa pengibaran Merah Putih dan seringkali merekalah yang menurunkan bendera Jepang, sehingga akhirnya Merah Putih berkibar tanpa bendera Jepang disampingnya.


Beribu-ribu pemuda dan rakyat terbaring bukan saja antara Krawang dan Bekasi tapi juga di Pekalongan, Semarang, Magelang, Yogyakarta, Bandung, Surabaya, Medan, Aceh, dan Sulawesi Selatan. Pertempuran dimulai dengan menyerang garnisun Jepang yang masih tinggal di kota-kota kabupaten dan karesidenan, dengan maksud untuk merebut senjata-senjata Jepang. Walaupun pertempuran itu biasanya berhasil tetapi meminta banyak korban; di Pekalonganpertempuran pertama terjadi pada tanggal 3 Oktober 1945 yang menelan 32 jiwa pemuda. Di Yogyakarta 18, sedang di Semarang dimana 300 orang Jepang dibunuh dengan bambu runcing, dibalas oleh Jepang dengan korban 2000 orang Indonesia. Sedang Bandung yang terkenal menjadi “lautan api” itu bagi pemuda Jawa Timur bukan merupakan kemenangan gemilang sehingga mereka mengirim pemerah bibir kepada pemuda Jawa Barat sebagai cemooh. Justru pertempuran Surabayalah yang menjadi lambang kepahlawanan, pengorbanan, dan semangat pemuda revolusioner. Pagi-pagi tanggal 10 November 1945 Surabaya diserang dengan metraliur, bom, dan teng-teng Inggris. Selama tiga minggu dan rakyat membalas hanya dengan pisau dan keris di tangannya.


Jauh dari Surabaya, yaitu di Sumatra Timur dan Aceh, juga mengalami pergolakan revolusi, dimana peranan pasukan-pasukan pemuda besar sekali. Seperti di Jawa, kekuatan pemuda di Sumatra Utara paling Nampak hanyalah di kota-kota. Di Medan, ibukota propinsi Sumatra (belum dibagi seperti sekarang) pasukan-pasukan pemuda di bawah koordinasi Xarim M.S., pemimpin dari generasi tua yang terkenal dan berpengaruh di Sumatra Timur, tiba-tiba harus siap menghadap Letnan Westerling yang tersohor ganas itu. Baru pada bulan Januari 1946 gerakan revolusioner bisa bersatu lagi menghadapi pemerintah kerajaan-kerajaan Melayu, Batak Simelungan, dan Batak Karo. Sultan-sultan itu sadar akan kelemahan Belanda, juga karena nasib para Hulubalang di Aceh, mereka akhirnya setuju dengan tuntutan Gubernur Sumatra Teuku Mohammad Hasan agar pemerintahan kerajaan-kerajaan itu disesuaikan dengan Republik. Pendeknya pemuda menuntut “daulat tuanku” diganti dengan “daulat rakyat”. Tetapi toh sikap sultan-sultan tetap dicurigai. Akhirnya yang mendorong pasukan pemuda untuk bertindak yaitu Persatuan Perjuangan yang didirikan Tan Malaka. Tan Malaka justru lebih terkenal di Sumatra Timur daripada pemimpin pusat lainnya. Semboyan Persatuan Perjuangan “100% Merdeka” dan semboyan pemuda “ lebih baik mandi darah daripada dijajah” cocok dan menjiwai perjuangan pemuda di Sumatera Timur dan mendorong aksi penggulingan raja-raja yang dianggap masih menghamba kepada Belanda. Malam tanggal 3 Maret 1946 keluarga raja-raja sebagian besar dibunuh dan kekayaannya dirampas semua.


Di Aceh pemuda-pemuda yang dipengaruhi oleh kejadian-kejadian di Medan bersama-sama dengan kaum ulama dalam organisasi PUSA atau Persatuan Ulama Seluruh Aceh di abwah pimpinan Daud Beureu’eh, menyingkirkan 107 bangsawan Aceh, yang berkedudukan sebagai hulubalang itu. Terutama di daerah Pidie para hulubalang dengan pimpinan Teuku Daud Cumbok mencoba mempertahankan kewibawaan mereka mengejek Republik dan pemuda. Tetapi usaha mereka sia-sia dan bulan Januari sebagian besar dibunuh di dalam “Perang Cumbok” yang berlangsung selama dua minggu.


Tapi siapa sebetulnya pemuda itu? Tradisi pemuda adalah sebagian dari tradisi protes social di Indonesia, terutama di Jawa dan Sumatra. Tradisi ini juga hidup di pesantren-pesantren, di mana pemudalah yang datang untuk belajar dengan seorang kyai yang terkenal sebagai ahli silat, atau memiliki ilmu (bahasa Jawa ngelmu) yang sering disebut ilmu kanuragan atau ilmu-ilmu rahasia. Para jago-jago dan guru sekolah di tingkat pedesaan juga mengemban tradisi protes sosial melawan Belanda maupun Pangreh Praja, wakil pemerintahan kolonial baik Belanda maupun Jepang.


Tahun 30-an gerakan pemuda memang sudah nampak. Sebelum perang sudah ada organisasi pergerakan pemuda seperti Indonesia Muda, Perpri (Persatuan Pemuda Republik Indonesia) yaitu ormas pemudanya Partindo yang berbasis di Solo, dan SPI (Suluh Pemuda Indonesia) ormas pemudanya PNI-Baru (PNI Sjahrir dan Hatta yang didirikan tahun 1933 itu). Pada tahun 1945 mereka juga tampil ke depan di kota-kota besar dan punya peranan di tingkat nasional seperti yang diceritakan tadi. Mereka sering disebut pemuda sekolah karena mereka berpendidikan Barat (artinya Belanda). Mereka tidak jarang menjadi pemimpin badan perjuangan di daerah, seperti API (Angkatan Pemuda Indonesia)yang pusatnya di Jakarta, AMRI (Angkatan Muda Republik Indonesia) di Semarang, dan PRI (Pemuda Rakyat Indonesia) di Surabaya. Sebetulnya organisasi-organisasi pemuda ini lebih tepat disebut kelompok yang banyak ragamnya. Organisasinya ada yang tersusun baik, tetapi ada juga yang ikatannya longgar, bahkan ada yang tidak bernama. Sering juga tidak ada hubungan antara satu sama yang lain, dan pula “keanggotaan” badan-badan ini tidak ketat dan bisa rangkap. Tugas pemuda misalnya ikut dalam jaga malam, jaga jalan, jaga kantor; mereka tahu apa yang harus mereka lakukan dan dimana mereka harus berada tanpa perintah. Anggota badan perjuangan pemuda sering disebut pemuda rakyat. Jangan salah faham dengan ormas PKI tahun 1965 itu. Pemuda rakyat pada tahun 1945 adalah pemuda non-elit yang miskin dari kampung dan desa pinggiran kota-kota.


Tapi sebetulnya kita belum menjawab pertanyaan tadi. Siapa mereka? Seorang pemuda adalah orang yang berjiwa revolusioner. Ukuran pemuda tidak tergantung pada umur, pendidikan, dan sudah kawin atau belum. Memang kebanyakan mereka adalah anak muda seperti yang diuraikan tadi, jarang yang mempunyai pendidikan Barat. Kebanyakan juga belum kawin- kita ingat bahwa sebelum perang hanya orang yang belum kawin boleh menjadi anggota Indonesia Muda.

Tentu juga arti “jiwa revolusioner” ini harus dilihat di dalam konteks kebudayaan Indonesia. Misalnya salah satu nilai revolusioner pemuda waktu itu adalah menolak nilai hirarki dalam pergaulan sehari-hari yang tercermin terutama dalam penggunaan bahasa. Pada umumnya di Jawa pemuda menolak memakai bahasa Jawa kromo yang pada hakikatnya adalah bahasa penghormatan. Mereka lebih suka memakai bahasa ngoko seperti di rapat-rapat umum karena dianggap bahasanya tegas, lebih jelas dan berani. Selain itu, di daerah Jawa dimana terjadi “revolusi sosial” seperti di pantai utara Jawa Tengah dan di karesidenan Pekalongan, pemuda dan rakyat selalu didorong untuk menanggalkan penggunaan gelar seperti misalnya paduka yang mulia, abdi, ndoro, dan sebagainya, diganti dengan bung dan saudara. Sebagai salam digunakan kata-kata seperti “merdeka!”, “darah!”, “bebas!” ; ungkapan keberanian yang penuh harapan dan setiakawan. Semangat mendasari segala sesuatu yang dilakukan oleh pemuda pada waktu itu. Kalau seseorang tidak mempunyai semangat, maka ia tidak dianggap sebagai pemuda. Ia hanya “pemuda-pemudaan” belaka. Sebagai imbalan tugas jaga di kota-kota kabupaten di Jawa, para pemuda menerima jatah nasi ponggol, yang terbungkus daun pisang dimasak di dapur umum. Ada beberapa pemuda yang dijuluki “pemuda ponggol” oleh seorang pemimpin, karena pemuda-pemuda itu ogah-ogahan menggantikan tugas jasa rekannya apabila nasi ponggol belum ada.


Penggunaan bahasa yang boleh dikatakan lebih demokratis mencerminkan nilai persamaan para pemuda waktu itu. Atau dengan kata lain ideologi “sama rata sama rasa”. Memang semboyan ini memiliki makna besar bagi seluruh gerakan nasional, bukan hanya pemuda. Rasa, sebuah kata Jawa yang artinya, antara lain rasa kejiwaan. Sama rasa arti kesamaan batin diantara pemuda dan rakyat yang berjuang bersama-sama. Bagi Pesindo atau Pemuda Sosialis Indonesia pada waktu itu, semboyan ini berarti kebahagiaan, kesejahteraan, dan kebebasan bersama. Sedangkan sama rata artinya bahwa pembagian bahan tekstil atau beras sisa dari pendudukan Jepang setiap orang harus mendapat bagian yang sama jumlahnya, tidak memandang besar atau kecilnya kebutuhan. Memang waktu itu ada perbedaan yang penting antara bebas dan merdeka. Banyak diantara pemuda rakyat, mengutip seorang pemimpin pemuda Islam waktu itu, “menginginkan kebebasan pribadi, namun belum memahami arti kemerdekaan”. Sering jawaban salam: “Merdeka!” ialah pekik: “Bebas” dengan tangan diacungkan. Memang kata Merdeka berasal dari kata Melayu Kuno Mahardiker yang berarti orang bebas (bukan budak) tidaklah asing lagi bagi pemuda. Bagi orang yang berumur 50 tahun dan memang punya jiwa pemuda dan ikut serta dalam penjagaan rintangan-rintangan (tempat pemeriksaan) di jalan, “Merdeka” mempunyai arti ideologis dan juga pribadi. Terutama berarti “Belanda harus lenyap” (tidak boleh kembali), pengucapan salam Merdeka mengandung arti “jiwa besar, tidak takut mati”. Sewaktu mereka mendengar berita Proklamasi darahnya mendidih bertekad untuk mempertahankan kemerdekaan. Seruan “keluar!”, “merdeka!” terdengar dimana-mana, merupakan seruan untuk menghalangi musuh yaitu Nica, Belanda-Belanda yang dikirim kembali ke Indonesia dengan membonceng pasukan Inggris di Jakarta.           


 

Last Updated on Wednesday, 27 August 2014 06:02
 


Powered by Joomla!. Designed by: gallery2 hosting reseller vps Valid XHTML and CSS.