Created by :

Pandji Kiansantang
Since 8 August 2011

Website :
PandjiKiansantang.Com

Email :
pkiansantang@gmail.com

Twitter :
@inspirasipanji

Other Websites :

 

>> PandjiKiansantang.com <<
WebsiteTulisan Inspirasi
Pandji Kiansantang

 

>> QIRSA.com <<

Dakwah Online "Qalbu Islami
Karyawan Summarecon"

 

 

Statistik Pengunjung

MENJELANG INDONESIA MERDEKA PDF Print E-mail
User Rating: / 0
PoorBest 
Buku Sejarah - Tulisan Sejaman
Wednesday, 28 July 2010 10:45

Kumpulan Tulisan Tentang Bentuk Dan Isi Negara Yang Akan Lahir, Pitoyo Darmo Sugito,
(Jakarta: PT Gunung Agung, 1982), 293.

KEMERDEKAAN TERATUR

Betapa sayangnya bahwa di masyarakat kita di sana-sini masih terdapat beberapa orang yang menjaukan diri dari cita-cita Indonesia Merdeka atau mengotori cita-cita yang suci itu dengan nafsu mencari keuntungan di dalam zaman pancaroba. Orang-orang serupa itu di dalam politik psychologinya merupakan bangkai hidup; ia tak mengenal keluhuran tanah air; darahnya bukan darah kebangsaan. Betapa sayangnya kedudukan orang-orang serupa itu di dalam pembangunan zaman baru. Indonesia medeka dapat disamakan intan terpendam, terpendam dalam batu karang kolonialisme dan meterialisme. Sebelum intan itu dapat diambil, maka batu karangnya harus dipecah belah lebih dulu. Sebelum intan itu dapat digosok, sehingga gemerlap, maka kotoran-kotoran dan sampah-sampah yang masih melekat harus dilempar lebih dahulu. Sudah barang tentu di dalam pekerjaan memecah-belah batu karang dan menggosok intan sampai gemerlap, ada sebagian baik dari kulitnya, maupun dari intannya sendiri akan rontok dan jatuh ke dalam lumpur. Hal ini tidak dapat diabaikan. Apa boleh buat, asal saja intan Indonesia Merdeka itu dapat gemerlap untuk seribu, ya seribu tahun!

Oleh karena susunan masyarakat kita di sana-sini masih menunjukkan sisa-sia kolonialisme dan materialism, maka saya merasa perlu mengingatkan kepada sekalian teman seperjuangan, bahwa kita hendaknya harus lebih waspada terhadap kepada beberapa gelintir orang-orang yang bermuka dua; di muka manis, di belakang menjelekkan. Memang perbuatan pengecut selalu begitu! Dikira, bahwa perbuatannya tidak akan tertangkap. Sungguh bodoh kamu sekalian pengkhianat dan pengecut. Selain dari pengkhianat dan pengecut, di tengah masyarakat terdapat pula orang-orang yang berkepala batu. Meskipun di dalam beberapa hal telah ada penjelasan yang terang benderang, akan tetapi si kepala batu itu tetap tidak mau percaya, malahan bertambah banyak comelan dan sindirannya. Comelan dan sindiran itulah yang sering-sering mengacaubalaukan masyarakat. Comelan dan sindiran hanya untuk mencomel dan menyindir, adalah sama buruknya dengan suatu pelanggaran atas keamanan dan ketenteraman masyarakat. Bagi mereka, si pengkhinat, si pengecut, si kepala batu, pengumuman Pemerintah tentang tindakan-tindakan yang penting menuju ke Indonesia Merdeka tidak ada lain faedahnya, melainkan mereka mendapat kesempatan untuk melanjutkan kejahatannya.

Lain halnya dengan orang-orang di dalam masyarakat yang memang kurang insaf tetapi dengan mata, kuping, dan hati terbuka ingin menginsafkan dirinya dengan menerima penjelasan-penjelasan dan lain-lain keterangan. Kepada golongan-golongan inilah Pemerintah member kesempatan untuk berbicara dengan leluasa tentang arti kemerdekaan. Pemerintah yang bijaksana akan memimpin dan menyehatkan segala pikiran dan pendirian rakyat tentang arti kemerdekaan. Juga rakyat sendiri hedaknya sanggup mempertinggi pikiran tentang hal itu. Kemerdekaan tidak berarti merdeka, yaitu bebas dari segala-galanya, misalnya bebas dari segala aturan, bukan itu. Jika kemerdekaan diartikan demikian, maka kemerdekaan adalah sama artinya dengan kerusuhan alias anarkhi, alias chaos. Memang kemerdekaan menghendaki peraturan, tetapi bukan peraturan yang mengikat keras sehingga kemerdekaan tak dapat bergerak sedikitpun juga. Jika demikian halnya, maka kemerdekaan adalah sama artinya dengan penindasan atau perbudakan. Maka dari itulah, arti kemerdekaan sesungguh-sungguhnya terletak di tengah-tengah kedua arti tadi; di antara arti paling kiri (anarkhi) dan arti paling kanan (perbudakan). Kemerdekaan teratur itulah kemerdekaan yang paling baik, yang akan membawa kita sekalian kepada kebahagiaan dan keadilan.

Paham kemerdekaan teratur menjadi sendi pula dari keputusan Permusyawaratan Asia Timur Raya, beserta Panca Dharma kita. Pembentukan rukun tetangga nagara hanya dapat dilangsungkan dengan kemerdekaan negara yang teratur, yang didasarkan atas paham gotong-royong, baik di dalam negeri antara penduduk-penduduk sendiri, maupun di luar negeri antara tetangga-tetangga kita.

Soekardjo Wirjopranoto

ASIA RAYA, 7 Maret 1945

 



SAUDAGAR TENAGA KEMERDEKAAN

Dalam melaksanakan kemerdekaan itu, sebagai kebaktian rakyat dari segala golongan, saudagar tidak kalah pentingnya dari lain-lain golongan, betapa pula dalam soal yang saban hari dibicarakan “tentang makanan dan pakaian” sebab soal ini adalah soal sekarang dan juga soal masa datang, karena ukuran kemajuan suatu negara pun berlangsung dengan keadaan ekonomi bangsa itu sendiri.

Menurut hemat saya, bahwa kemerdekaan itu adalah hak bangsa Indonesia umum dan bukan kepentingan segolongan-segolongan, untuk melaksanakan jalannya ekonomi, agar masyarakat kita sehat dan sama sanggup menerima kemerdekaan itu, alangkah baiknya saudagar itu diajak berunding, guna membicarakan soal-soal yang bersangkut dengan jalannya ekonomi, sebab dia dalam hakekatnya suatu sendi juga yang bakal sama memiliki kemerdekaan itu.

Sekalipun kita tahu, bahwa saudagar Indonesia masih kurang pengaruhnya, lantaran sedikit jumlahnya, kurang ilmunya, baru pengalamannya, tapi mengingat kepentingan jumlahnya bangsa Indonesia sendiri, maka tenaga saudagar penting untuk cadangan kemerdekaan tanah air kita: sebagai semboyang yang barusan diucapkan oleh Sidang Tyuuo Sangi In “Merdeka atau mati”. Kalau memang semboyan itu semboyan untuk rakyat Indonesia umum, maka dengan tegas saya berpendapat, terutama saya tujukan kepada badan-badan yang menyusun dasar kemerdekaan negara kita, himpunlah saudagar, ajaklag dia berunding, berilah penerangan yang praktis, bahwa saudagar saudagar zaman perang bukan untuk penimbun-penimbun kekayaan, tapi tenaganya perlu dan penting, untuk membantu peperangan, menolong rakyat, jadi contoh dalam masyarakat. Dengan jalan demikian saya percaya, bahwa tenaganya betul untuk pembinaan Indonesia Merdeka.

Maka kunci dari tulisan ini, Tenaga Saudagar Penting Dalam Zaman Perang, da memnjadi tiang dalam bentuknya Indonesia Merdeka, maka dari itu himpunkanlah dia, beri penerangan, susunlah organisasinya, dengan jalan demikian terisilah segala sudut dalam jaminan Indonesia MErdeka yang sentosa kelak.

Alwie Sja’ban, Jakarta

ASIA RAYA, 21 Maret 1945

PENDUDUK DENGAN KEMERDEKAAN

1. Kita harus banyak benar, bahwa penduduk Indonesia khususnya yang baru 10% mengenal tulisan itu belum tentu 0,5% yang mengerti atau insaf akan arti kemerdekaan yang sebenarnya.

2. Maka oleh karena itu saya berpendapat, apa tidak baiknya jika di saming usaha yang telah dujalankan supaya:

a. Diadakan sebanyak mungkinpengumuman dari penerangan tentang kemerdekaan seluas-luasnya dalam berbagai soal yang mudah dimengerti oleh penduduk (sebab kebanyakan buta huruf) dengan sejelas-jelasnya.

b. Diadakan pengumpulan Badan-badan dan Golongan untuk brsama-sama berunding denganhal Kemerdekaan yang sesuai dengan kepentingan, kemauan dan tujuan masing-masing;

c. Mengumpulkan kaum terpelajar, pemuda putera dan puteri (yang dulu ada terdapat di kalangan Perkumpulan dan sekarang bercerai-berai di berbagai lapangan pekerjaan) untuk diminta bantuannya mempersoalkan kemerdekaan seluas-luasnya;

d. Mengadakan Badan Propaganda Kemerdekaan di tiap-tiap Badan Perkumpulan dan Golongan di Daerah-daerah;

e. Mengadakan Panitia untuk mengumpul dan menimbang berbagai soal suara Rakyat tersebut di atas, dan lain-lain cara dan usaha sebagainya.

3. Dengan jalan demikian mudah-mudahan terbentuklah suatu organisasi yang berdasarkan atas rasa Kebangsaan sejati yang dikehendaki oleh lapisan Rakyat; yang mana sudah sewajarnya bersama-sama menyelenggarakan, sama-sama merasakan, sama-sama menanggung jawab dan sama-sama mempertahankan berdirinya Negara, sebab tanah air Indonesia adalah kepunyaan kita dan hak kita bersama.

W.G. Subroto, Jakarta

ASIA RAYA, 26 Maret 1945

 


SOAL MENCIPTA

Salah satu hal yang menentukan apakah suatu rakyat bisa merdeka atau tidak, yaitu apakah rakyat mempunyai kekuatannya mencipta, atau dengan lain perkataan kekuatan membikin, besar atau tidak. Tengok sajalah sejarah Nippon. Ketika bangsa Barat masuk di sana maksudnya pun tak berbeda seperti masuk di negeri kita. Tetapi apa sebabnya kita lantas menjadi jajahan dan Nippon tidak, sedangkan kita boleh dikatakan bahwa kekuatan kita pada masa itu tak banyak berbeda dengan kekuatan Nippon. Mengecualikan persatuan mereka terhadap segala musuh yang datangnya dari luar, bangsa Nippon adalah bangsa yang giat belajar dan giat bekerja. Dengan masuknya bangsa Barat di negeri mereka, mereka lantas menyelidiki rahasianya mengapa mereka bisa datang, dan rahasia-rahasia kepandaian mereka.

Ratusan, ribuan bangsa Nippon pergi belajar ke negeri Barat. Hasilnya yang mereka peroleh, banyak atau sedikit, mereka cobakan di negerinya sendiri. Mereka menulis buku-buku, mereka membikin barang-barang seperti yang mereka lihat di negeri rantauan. Pertama kali mereka baru bisa menyalin buku-buku asing langkahnya maju sedikit, mereka menulis buku sendiri, walaupun isinya banyak kedapatan salah. Tetapi buku-buku yang terdapat ada salahnya ini dengan diterbitkannya di sana sini mendapat sambutan dan pembetulan hingga menjadi sempurna. Demikian pula dengan membikin barang-barang, bangsa Nippon tak segan-segan membikin kesalahan, kesalahan-kesalahan mana maksudnya supaya dibetulkan, dan buktinya mereka bisa membetulkan juga. Hasilnya sekarang kalau kita pergi ke toko buku, di situ terdapat ribuan buku-buku dalam bahasa Nippon. Apakah yang sekarang tak tertulis dalam bahasa Nippon, kamus-kamus, ensiklopedi umum, ensiklopedi teknik, buku pelajaran, semua lengkap. Hasilnya membikin barang-barang kita bisa lihat dalam mesin terbangnya, gedung-gedung dari beton yang tingginya 10-12 tingkat, jalan kereta api (kereta listrik) di bawah tanah, di tanah, di atas tanah, dan lain-lain.

Jadi sendi mengapa Nippon bisa merdeka terus, yaitu karena Nippon bisa mengadakan apa yang musuh mengadakan. Kalau kita sekarang sedikit rakyat kita, dari seteleng-seteleng terbukti bangsa Indonesia bisa membikin. Tetapi pembikinan ini masih perlu diperluas dan diperbaiki. Satu-satunya jalan untuk memperluas dan memperbaiki yaitu dengan belajar. Belajar sendiri, atau pada lain orang. Peristiwa aneh di negeri kita ini yaitu bahwa umumnya orang berpikiran, bahwa tempatnya dan waktunya belajar itu di sekolah saja. Sebetulnya sebaliknya: di sekolah orang baru saja menyusun semua pengetahuan yang diberikan tetapi untuk mendalam harus sesudahnya keluar sekolah. Belajar di luar sekolah ini akan menjadi giat, dengan adanya beberapa orang yang menerbitkan buku, yang salah, hingga mendapat sambutan dari sana sini.

Sebagai rakyat yang akan merdeka dan menjaga kemerdekaan itu, kita pun harus bersemboyan, apa yang musuh bisa bikin kita pun harus bisa bikin, yang mereka bisa berbuat kita pun sanggup berbuat. Kalau dengan bekerja 10 jam sehari belum bisa didapatnya, bekerjanya harus ditambah menjadi 12 jam, kalau ini pun belum berhasil harus ditambah lagi. Hanya dengan bekerja dengan memakai semangat buang raga, buang jiwa saja, kita bisa mengejar kembali ketinggalan kita.

Ir. Tjokronolo

ASIA RAYA, 27 Maret 1945



SIFAT DAN DASAR KEMERDEKAAN

Berhubung dengan akan merdekanya Indonesia di kemudian hari, maka untuk sifat dan dasarnya kemerdekaan itu, kami berpendapat seperti di bawah ini:

1. Kemerdekaan Indonesia berdasarkan asas kekeluargaan secara Timur asli, yang dapat menghubungkan dengan kekeluargaan besar Asia Timur Raya.

2. Menetapi Dharma, supaya menjadi luhur, sebab satu-satunya bangsa ada mempunyai Dharma sendiri-sendiri yang ditunjukkan oleh Kodrat Alam.

3. Menguatkan rasa bakti dan cinta kasih (sih), sebab inilah yang dapat menuntut terbakti, setia kepada cinta pada bangsa dan nusa, seterusnya pada Tuhan yang Maha Esa, dan dapat mewujudkan persaudaraan bangsa-bangsa.

4. Menyempurnakan Jiwa bangsa, supaya dapat dituntun kea rah kemajuan luhur, sebab dalam hakekatnya Jiwalah yang dituntun.

Ir. Tjokromolo

ASIA RAYA, 27 Maret 1945



SAMBUTAN INDONESIA MERDEKA

“Hal Indonesia Merdeka” itu sesungguhnya jika benda saya ambil dengan kegembiraan yang mudah saja, memang cukup saya terima dengan kegembiraan yang tak ada bandingan. Tetapi jika saya terima dengan kegembiraan yang tak ada bandingan. Tetapi jika saya terima dengan tenang dan rasa tanggung jawab, di sampingnya gembira tadi harus ada persedian yang sesuai; artinya memenuhi rasa tanggung jawab kita. Di sini ada saya umpamakan Indonesia sebagai Puteri Linuwih. Jikalau orang ingin memilki Puteri Linuwih tadi, ke satu,

1. Tenggoklah lahir dan batinmu, pantaskah atau tidak menjadi pasangannya, akan merosotkan atau menjujung tinggi kepada keadaanmu dan lain-lainnya.

2. Rabalah sanubarimu, bagaimanakah kewajibanmu untuk menjaga keselamatan dan kehormatan Puteri Liniwih tadi?

Maka dari itu persiapan rasa tanggung jawab tadi harus tidak boleh dibikin sembrana. Jangan-jangan nanti hanya sebagai mimpi belaka. Akan tetapi saya yakin, bahwa para Prawira kita tidak akan mengecewakan dikelak kemudian hari.

Dengan penuh penghargaan saya sebagai seorang ibu selalu berdaya upaya membimbing sedapat-dapatnya agar kelak mempunyai anak yang melaksanakan kudangan (cita-cita) Ibu. Di sini “anak” artinya ialah “anak dari Ibu Indonesia”.

Ny. S. Surasa, Cilacap

ASIA RAYA, 30 Maret 1945



KEMERDEKAAN BATIN

Kemerdekaan bangsa harus berdasar atas dasar kemerdekaan diri dari rakyatnya. Kemerdekaan diri dari seorang berarti bahwa orang itu mempunyai perasaan bahwa ia berhak hidup dan berhak untuk mempertahankan kehidupannya selaras dengan kecakapan dan kedudukannya. Ia yakin atas dirinya sendiri bahwa ia sama-sama manusia dengan lain manusia dengan lain manusia telah dititahkan oleh Allah S.w.t. tidak berlainan dan tidak berkurang.

Orang-orang tua berkata bahwa untuk mengenal tujuan hidup manusia di dunia ini orang harus mencari dirinya sendiri sampai ketemu (dalam arti batin). Jikalau seorang telah mengerjakan ajaran ini, hilang padanya: kekuatiran hidup, rasa takut terhadap apapu dan terhadap kejadian apapun di dunia ini dan timbullah padanya kepercayaan atas tenaga dan kekuatan diri yang bersifat rohani maupun jasmani dan bangunlah padanya perasaan bahwa segala keadaan dan kejadian di dunia itu ada hubungannya dan ia harus tahu tempatnya dan kewajibannya dalam hubungannya dalam hubungan itu, tidak mengurangi dan tidak melebihi.

Seorang demikian inilah yang bersifat merdeka.

Sifat merdeka ini berlainan sekali daripada sifat cinta pada diri sendiri.

Seorang yang bersifat merdeka mengakui dirinya sebagian daripada bentuk alam, biarpun ia berkeyakinan bahwa walaupun kecil, padanya ada pekerjaan dan kewajiban penting dalam jalannya penghidupan dunia ini.

Seorang yang bersifat cinta diri sendiri memusatkan dunianya di dalam bentuk badannya dan dia tidak mengakui hubungan dirinya dengan alam selain untuk menguntukngkan dirinya di dunia yang fana ini.

Kepada seorang yang bersifat merdeka tidak ada kejadian di alam dunia yang mengagumkan dan mengherankan dia, sekalipun kejadian itu menyusahkan atau merugikan padanya, maka rasa takut atau kuatir tidak ada padanya di masa, di tempat dan di waktu apapun. Orang yang mencintai diri sendiri sayang kalau bentuk dunia badannya terganggu oleh kodrat alam, maka ia kuatir dan takut kehilangan dirinya yag dicitai itu.

Ajaran demikian ini ajaran orang-orang tua Indonesia yang dengan nyata didasarkan kepada ajaran-ajaran Agama Islam, akan tetapi yang telah dilupakan oleh bangsa Indonesia atau tidak diperhatikan lagi, ketarik oleh sifat perseorangan, cinta diri sendiri seperti sifatnya hidup orang barat.

Maka haraplah kita pelajari lagi ajaran ini.

Jikalau rakyat kita, mulai dari pemimpinnya dari yang besar sampai yang kecil, yang tinggi sampai yang rendah, terus sampai ke rakyat jelata telah bersifat merdeka itu, dengan sendirinya tersusun Indonesia Merdeka semerdeka-merdekanya. Negara Merdeka pun tidak boleh kuatir atau takut untuk mempertahankan hak dan kesempatan hidupnya. Hilangnya takut dan kuatir menimbulkan kekuatan.

Bagi orang yang bersifat merdeka tidak ada tuan dan tidak ada budak, melainkan Tuhan yang meliputi segala kehidupan dan segala kebendaan di dunia ini dengan dasar adil, murah dan sama.

Dalam penghidupan di masyarakat perlu ada tingkatan dan pangkat dalam pekerjaan sehari-hari, karena telah disengaja oleh Allah s.w.t. adanya macam keahlian dan kecakapan untuk dapat menyempurnakan kehidupan manusia, seperti berlainan bangsa berdasar atas berlainan negeri. Tetapi satu-satunya orang, satu-satunya bangsa harus bersifat merdeka, tidak mengurangi dan tidak melebihi batas hidupnya. Paman tukang rumput bersifat merdeka seperti tuan Bupati bersifat merdeka pula. Kodrat alam meminta tukang rumput menghormati Bupati, akan tetapi dengan menghormati pangkat tidak berarti meninggalkan sifat kemerdekaan itu sendiri.

Alangkah baiknya jikalau rakyat kita telah bersifat merdeka sedemikian itu. Sekarang sifat ini hilang, musnah, maka daprt terjadi orang Indonesia dihina, dianiaya, diperlakukan oleh orang lain bangsa dengan tak ada balasannya apa-apa oleh si orang Indonesia itu, maupun dalam lahir baik pun dalam batin. Maka masih dapat dikatakan bahwa kebanyakan bangsa kita bersifat budak. Tidak lain, tidak bukan oleh karana kita lupa kepada ajaran orang-orang tua kita.

Moga-moga Allah s.w.t. mengaruniakan kepada bangsa kita kembalinya sifat merdeka kuno itu, tersusun dalam satu bentuk yang mulia dan merdeka semerdeka-merdekanya, ialah Indonesia Merdeka.

Moeardi

ASIA RAYA, 4 April 1945



BAHASA DAN KEMERDEKAAN

1. Bendera

2. Lagu Kebangsaan

3. Bahasa Persatuan

4. Tanah Air.

Inilah lambang persatuan yang selalu ada pada bangsa yang merdeka. Jikalau salah satu dari yang empat itu tidak ada, maka tak dapatlah bangsa itu merdeka dengan sebenarnya.

Setelah kita memiliki si dua warna dan lagu “Indonesia Raya” kembali dari tangan saudara Tua, maka darah kita yang 300 tahun lamanya dingin membeku itu segeralah menjadi panas.

Tetapi mengapakah tinggal panas saja, mengapa tidak mendidih? Bukankah yang kita harapkan supaya darah kita mendidih, supaya dapat menggelak dan melimpah sehingga membatasi tanah air kita?

“Mengapa darah tiada mendidih?”

“Di manakah dicari api untuk mendidihkan darah?”

Bahasa Indonesia, bahasa persatuan, itulah api yang dahsyat!

Bukankah bahasa persatuan itu yang sangat ditakutkan oleh segala penindas bangsa? Semua penjajah insaf, bahwa cita-cita Kemerdekaan bahasa bukan lebih penting daripada kemerdekaan politik. Bahasa persatuan adalah momok yang berbahaya bagi pemeras bangsa.

Masih ingatkah guru besar yang pintar itu, tiada malu mengemukakan teori palsu kepada rakyat kita? Mengapakah diperlukannya berpidato demikian? Kalau tidak berada ada, masakan tempua bersarang rendah! Ketika itu “Momok Bahasa Persatuan” dibangunkan oleh pemimpin-pemimpin kita.

Dan dalam kesenangan hidupnya di Sorga Indonesia, si Londo merasa terganggu, diganggu oleh musuh yang sangat besar dan berkuasa.

Zaman itu sudah lampau...

Si Londo sudah mati…

Saudara tua datang. Di mana-mana kelihatan “Pakailah Bahasa Indonesia”. Tapi adakah seruan itu didengarkan? Ah masih banyak yang cinta kepada bahasa Belanda. “Bahasa Belanda aksi, lengkap, bahasa orang terpelajar”, kata kaum “intelek” yang sesat.

Jikalau melihat kesalahan, lekaslah campakkan kesalahan itu. Renungkanlah di Indonesia ini Bahasa Indonesia dari siang sampai malam. Untuk mencapai ini saya anjurkan:

1. Semua nama bangsa Indonesia harus terjadi dari bahasa persatuan. Umpamanya orang yang dahulu Jenny Sumardjo, hruslah sekarang bernama Jusni atau Joenani dan lain-lain.

2. Di dalam rumah tangga harus dipakai bahasa Indonesia.

3. Mengadakan perlombaan-perlombaan berpidato, mengarang dan menyanyi dalam bahasa Indonesia bagi murid-murid sekolah.

4. Melarang dengan ancaman pemakaian bahasa Belanda.

5. Mengadakan kursus bahasa Indonesia.

6. Menghilangkan bahasa daerah pada sekolah-sekolah.

Dan apabila sekalian benda yang dapat diraba dan tak dapat diraba yang berasal dari Indonesia ini sudah memakai cap Indonesia, barulah darah kita dapat mendidih.

Radja Tjantik, Bekasi

ASIA RAYA, 7 April 1945



MERDIKA


Saya gunakan kata merdika, tidak seperti biasanya “merdeka”, sekedar untuk pokok mengupas, apakah sesungguhnya benar bangsa Indonesia mempunyai jiwa dan rasa merdika dan telah mengalami merdika di masa yang lampau sebelum dijajah oleh bangsa-bangsa Barat.

Kata “merdika” sudah dimiliki oleh bangsa Indonesia diambil dari bahasa Sankrit “mahardhika”, yang berarti : kaya raya, kuat, pintar, luhur, bijaksana, dan sebagainya.

Dan kemudian oleh ahli bahasa dan pujangga kita, disingkat menjadi merdika dn berarti kemuliaan, yang tiada kekurangannya, tidak terkurung, tidak tergenggam oleh orang lain kekuasaan, pendek kata bebas.

Pengertian bangsa Indonesia akan Merdika, tidak saja karena sudah melampaui zaman merdika, tapi juga sampai di zaman penjajahan Belanda, hidup ditindas sebagai bangsa terjajah, masih tetap menggunakan kata merdika untuk sesuatu yang bebas, misalnya: tanah perdikan, desa perdikan, penduduk perdikan, yang artinya: merdika atau bebas dari kekuasaan pemerintah kumpeni dulu, tidak diatur atau diurus fihak lain.

Jadi nyata, bahwa bangsa Indonesia telah memiliki merdika sejak mulanya mengatur sendiri kemakmuran nusa dan bangsa dan bebas dan kekuasaan atau genggaman bangsa lain.

Dan dapatnya bebas dari kekuasaan lain bangsa, sudah tentu didasarkan pada usahanya. Jadi leluhur bangsa kita yang hidup di jaman merdika sebelum merdika dan mulia, lebih dulu berusaha seperti orang menanam padi pasti menghasilkan nasi. Kalau tidak ada tanaman padi, mustahil orang makan nasi.

Demikian juga manusia dan merdika. Satu bangsa yang tidak berusaha merdika pasti tidak akan merdika dan bangsa itu tidak akan merasakan kemuliaan. Usaha mendapatkan merdika tentu sukar, harus berani menghadapi segala kesusahan dan kesukaran, bahkan harus berani sedia dan menyerahkan pengorbanan raga dan jiwa. Apalagi usaha mencapai merdika di masa peperangan yang dahsyat seperti sekarang ini, selainnya menyusun dan memperbaiki masyarakat, juga mesti mencurahkan tenaga dan pikiran untuk menyongsong kemenangan akhir sebagai pintu gerbang Indonesia merdika.

Dasarnya (azas) negara merdika untuk bangsa Indonesia, saya rasa tidak perlu dicari yang baru, cukup jika kiranya dihidupkan kembali dasar negara dan masyarakat Indonesia di zaman merdika dulu, dan diselaraskan untuk mencapai kemakmuran bersama kekeluargaan A.T.R. Dengan dasar itu, maka faham kebangsaan yang sempit (chauvinisme) terlepas dari kemegahan kebangsaan Indonesia.

Di atas dasar itu tadi, maka dengan sendiriya bukan penduduk asli saja, tetapi seperti peranakan-peranakan Tionghoa, Arab, Belanda, dan lain-lain sama mempunyai kewajiban membantu dan bekerja bersama untuk mencapai Indonesia merdika. Di dalam negara merdika, kaum peranakan juga layak diperlakukan sebagai bangsa Indonesia.

Bentuknya (vorm) negara Indonesia di bawah republik atau monarchie tidak menjadi soal penting. Yang terpenting adanya engara merdika yang berkedaulatan rakyat dan mewujudkan kemakmuran rakyat.

Waktunya kapan dan bilamana Indonesia merdika ditentukan, sendiri oleh hasil usaha dan keadaan bangsa Indonesia. Artinya, kesanggupan dan kecakapan bangsa Indonesia sendirilah yang akan menetapkan waktunya Indonesia merdika. Bangsa Indonesia di Jawa khususnya mengenai wayang Bima Ruci mencari “tirta marta”, air sakti untuk mencapai keluhuran dan kemuliaan keluarga Pandawa. Sang Bima ikhlas berkorban raga dan jiwa, sampai akhirnya mendapat yang dicari.

Jadi syarat-syarat menyongsong Indonesia merdika, semua golongan dan lapisan rakyat Indonesia harus sanggup mengorbankan segala apa yang dapat dikorbankan, bahkan jiwanya tersedia untuk membantu Balatentara Dai Nippon dalam usahanya melahirkan Indonesia merdika yang makmur abadi.

Bratanata

TJAHAJA 3 Mei 1945



IBU PERTIWI AKAN MELAHIRKAN SANG MERDEKA
SEGALA SESUATU HARUS DISELESAIKAN

Untuk menggambarkan kedudukan Indonesia dalam menghadapi janji kemerdekaannya, maka baiklah di sini diberi gambar contoh sebagai perumpamaan, agar supaya lekas segera dapat dilukiskan dalam hati rakyat, terutama tingkatan yang paling rendah, yang susah-payah dapat membayangkan atau menangkap suatu lukisan dalam hatinya, melainkan dengan suatu contoh yang logis dan mudah difaham.

Seorang ibu jika telah 9 bulan mengandung bayi, tentu keadaannya semakin hari semakin payah dan letih. Sering-sering malam tak bisa tidur karena kandungannya semakin berat dan gerak-geriknya terasa sakit dan sering mondar-mandir membuang air.

Selain daripada menderita kepayahan, juga perempuan itu harus bersedia untuk menerima bayi, yang nantinya akan dilahirkan, bahkan bayi yang pasti dilahirkan.

Segala sesuatu keperluan isteri yang akan melahirkan harus disediakan: kasur, bantal, kain-kain lapik bayi, dermatol, kayu-putih, peparem, jamu-jamu dari berbagai macam, yang semuanya itu untuk persediaan melahirkan Sang Bayi.

Tatkala isteri itu melahirkan, harus berlumuran darah, mengeluarkan tenaga dan jerih – kepayahannya sehingga bayi itu dengan selamat lahir ke muka bumi.

Sampai di sini belum habis kewajiban terhadap pemeliharaan bayi itu, karena harus dipelihara baik-baik tentang makanan, pakaian, dan segala keperluannya, dan terlebih-lebih harus dijaga jangan sampai dirawu Kelong (Hantu). Anak itu harus dididik dan diajar rupa-rupa ilmu pengetahuan supaya cukup dan cakap untuk mengerjakan segala kewajiban dengan baik dan sempurna, disertai dengan rasa tanggug jawab yang sepenuh-penuhnya. Jadi nyata sekali, bahwa isteri yang melahirkan itu tidak senang, bahkan sebaliknya penuh menderita kepayahan.

Begitu juga keadaan Indonesia yag diumpamakan seperti Ibu Pertiwinya.

Indonesia hendak menemui kemerdekaannya seperti Ibu Pertiwi yang akan melahirkan anaknya Sang Merdeka. Semakin hari semakin berat terasa oleh rakyat, terutama yang menjadi Roomusyanya: menderita kurang makan, kurang pakaian, harus bekerja suka rela mondar-mandir kian kemari dengan mengeluarkan keringat, tidak beda seperti keadaan perempuan itu mondar-mandir kian kemari; kadang-kadang dihinggapi rasa takut atau hampir putus asa. Untung betul nasibnya tidak dipikul sendiri saja, karena di sampingnya ada sedia Bidan atau Dokter yang akan membantu meringankan kelahiran bayi itu dan berdaya upaya meringankan penderitaannya. Bilamana Ibu Pertiwi mengandung sudah 9 bulan itu, dikatakan kepadanya: “Kamu akan melahirkan”, dan bilamana sudah liwat 9 bulan itu, dikatakan kepadanya dengan suara yang nyaring: “Kamu pasti melahirkan”.

Kelahiran bayi Sang Merdeka itu hanya menunggu saatnya saja. Bidan memberi kepastian akan lahirnya dan sungguh akan membantu kepada Ibu Pertiwi, akan tetapi Bidan tidak bisa mengatakan, kapan akan dilahirkannya, sebab soal melahirkan itu harus si Bayi sendiri yang mempunyai keinginan untuk keluar, selaras dengan izinan Tuhan, yaitu bilamana sudah dirasakan sempurna dalam segala-galanya, bentuk susunan badannya sudah lengkap, sekalian panca-drianya, juga panca darmanya sudah lengkap, nanti dengan takdir Tuhan, bayi akan mulai berjuang, melepaskan diri dari tempat penjajahan, untuk keluar ke muka bumi yang luas ini, dengan mulai mengisap udara kemerdekaan. Darah sudah dialirkan, kesusahan dan kepayahan sudah diderita, sekarang tinggal memelihara kedudukan jangan sampai dirawu kelong Buta-terong yang akan kembali memperbudakkannya.

Kepada Bidan, Ibu Pertiwi harus tahu berterima kasih, menghormat kedatangannya, menyediakan kendaraannya, member kepadanya kedudukan yang baik dan sepadan dengan kehormatan dan jasanya. Dari lukisan ini, dapatlah rakyat mengerti, bahwa mereka itu sungguh-sungguh harus menderita kepayahan lebih dahulu, sebelum sampai kepada cita-cita yang luhur dan mulia. Bilamana perasaan ini sudah ada, bahkan sudah meresap menjadi keinsafan, nanti mereka tidak akan mengomel karena kekurangan ini dan itu, dan akan menyumbangkan segenap tenaga lahir dan bathin untuk bersama-sama mengejar kemuliaan jadi bangsa yang terhormat, dapat menjalankan segala kewajiban terutama terhadap Tuhan sekalian alam.

K.H. Moesaddad

TJAHAYA 4 Mei 1945


MENUMBUHKAN KEMBALI “JIWA MERDEKA”

Jiwa merdeka telah ada sejak zaman Sriwijaya dan Majapahit hingga sekarang. Riwayat kita yang lampau di masa jajahan Barat, ialah riwayat kalah. Dai Nippon datang di negeri kita untuk memberi kesempatan pada kita supaya berdiri sendiri.

Riwayat kalah tadi disebabkan oleh Jiwa Merdeka kita, yang tidak dapat melaksanakan keinginannya dengan bukti yang nyata, yaitu mempertahankan negara dan bangsa. Pada saat ini kita bersama merasa Jiwa Merdeka itu makin lama makin besar tumbuhnya, merasa pula keinginan kita untuk berbuat masing-masing yang hebat, untuk mendekati dan mencapai kemerdekaan.

Melihat kedudukan leluhur kita pada zaman dahulu, dan melihat hebatnya perjuangan bangsa kita didalam lapangan nasionalisme pada waktu yang lampau, baik dikalangan turunan raja – raja, maupun di kalangan kaum pergerakan dengan Pemimpin – pemimpinnya, saya mempunyai kenyakinan, bahwa sekarang in ita masih mengandung sifat – sifat leluhur dari nenek moyang kita.

Warisan inilah yang penting untuk menetapkan dapat atau tidaknya bangsa kita menetapkan kodrat merdeka kita didunia ini Tanah Indonesia, ialah warisan materiel dari nenek moyang.Dai Nippon telah sanggup akan memberi merdeka pada bangsa Indonesia.Kuatkah kita memikul ini? Janganlah lupa bahwa kemerdekaan zaman sekarang adalah lebih berat dari keerdekaan dizaman yang lampau, misalnya zaman Majapahit, karena ilmu apa saja semakin lama semakin pesat majunya (civilisatie).

Kita harus maju secepat-cepatnya, agar dapat mencapai derajat yang pantas di dalam waktu yang singkat, derajat yang tidak mengecewakan, jika dipandang dengan kaca mata dunia.

Mengejar kepandaian di segala lapangan secepat mungkin, dengan jalan mengejar ilmu yang praktis, yang segera dapat dilaksanakan; inilah satu dari arti penyesuaian diri pada keadaan luar, ialah anpassung.

Sekarang timbul pertanyaan apakah keadaan luar itu?

I. Asia Timur Raya dengan kemakmuran bersama. Gotong royong dan persaudaraan di antara segala bangsa di Asia Timur Raya. Satu di dalam peperangan semuanya di dalam peperangan dan semuanya bantu menbantu dengan rela dan ikhlas. Begitu seterusnya.

II. Dunia luar yang kecil jika disbanding dengan Asia ialah Indonesia dan masyarakatnya. Juga disini kita harus menyesuaukan diri, badan kita denga keadaan di luar. Juga disini persatuan, persaudaraan, gotong royong harus kita jalankan dengan nyata. Tidak cukup, jika kita hanya mementingkan kepentingan diri sendiri saja. Kita harus bertindak supaya ini egoisme menjadi hilang dari jiwa kita dan menjadi Asia Altruisme.

Jiwa kita harus menjadi satu bagian dari jiwa Asia, kebudayaan Asia. Badan kita menjadi satu dengan badan Asia. Asia Timur Raya ialah satu blok, yang tidak boleh dipisahkan.

Riwayat baru yang kita alami sekarang ini akan menentukan dengan jalan secara “Seletionstheorie” dari Darwin, apakah kita bangsa Asia akan menang atau kalah, sebagai bangsa, yang duduknya dan hidupnya di Asia Timur Raya ini memang laras-selarasnya dengan kodrat alam mulai dahulu kala.

Dengan singkat yang harus kita perhatikan dan kita jalankan ialah:

1. Kita bersama lain-lain bangsa di Asia Timur Raya berada di dalam “Kampfumdasein”. 2. Dengan keinsafan akan hal ini kita harus mengadakan “Artumbildung” ialah melaraskan jiwa dan badan kasar dengan dunia di luar kita, dengan mepergunakan alat-alat dari nenek moyang, ialah keluuran sifat-sifat beliau itu, yang masih mengalir besama darah kita.

Di dalam usaha ini sudah tentu bagian msyarakat kita, yang sangat mudah untuk menjalankan da mencapainya, ialah bagian pemuda. Maka pemudalah dari segala lapisan, dari rakyat jelata, dari kaum menengah, dari kalangan terpelajar, dari kalngan ningrat, harus menyerbu serentak ke jurusan ini, dan mewujudkan sesuatu benteng yang laras dengan keadaan pada masa ini.

Saya katakan terutama pemuda, karena pemuda Indonesia ialah yang jiwa dan raganya lebih bersih dan lebih kuat dari pada kita, orang tua atau setengah tua.

Nanti akan datang maha puncaknya, “kampfumdasein” dan dengan jalan cra seleksion akan ditentukan “uberlebern” das passandsten”. Saya yakin, bawa kita bangsa Indonesia akan termasuk dalam golongan ini, ialah golongn, dari “Das Passandsten”, golongan yag cocok, yang laras dengn bagian dunia yag bernama Asia Timur Raya, menurut kodrat alam yang berjalan sejak waktu manusia yang kuno dititahkan di ala dunia.

Dr. R.M. Soeratman Erwin

TJHAJA 5 Mei 1945



INDONESIA MERDEKA

Dari sejak lahirnya pergerakan kebangsaan, memang “Kemerdekaan Indonesia” itu selalu menjadi idam-idamannnya. Pergerakan Kebangsaan itu pulalah yang menganjur-anjurkan serta mengeja-ngejar kedatangannya Kemerdekan.

Maka sudah semestinya dan sepantasnya, Kemerdekaan yang akan kita hadapi itu harus bercorak serta berdasarkan kebangsaan pula. Bukan saja hal ini pantas diwujudkan untuk menunaikan perjuangan-perjuangan partai-partai Kebangsaan di aktu yang lampau, tetapi keadaan di seluruh dunia pun membuktikan dengan nyata, bahwa dasar-dasar negara yang tersehat dan terkokoh sendiri, tak lain ialah dasar kebangsaan, begitulah pula kadaan di Italia, Jermania begitulah pula keadaan di Nippon. Malahan di negeri yag terakhir ini sangat terang nyata, bahwa sendi kebangsaanlah yang sangat menegakkan negeri.

Di dalam sejarah perjuangan Sarekat Islam dulu, pun juga kebangsaan lah yang menjadi program yang terutama, sedangakan agama merupakan salah satu syarat penting untuk mengekalkan rasa kebangsaan.

Menilik beberapa contoh di atas, pantaslah dikemukakan, bahwa sekali-sekali janganlah agama dijadikan pokok dalam pembinaan negara.

Harus ada perpisahan anatra Negara dan Agama (scheidiving uan Staat en kerk).

Tentu saja di dalam negara Indonsia Merdeka, yang mempunyai penduduk 90% pemeluk Agama Islam, tentu nanti akan diberi kesempatan seluas-luasnya kepada agama tadi untuk berkembang, asal hal ini tidak merugikan sifat “kebangsaan” dalam susunan negara.

Malahan kita perlu sekali agama tadi, sebagai pengikat dan alat mengekalkan kebangsaan.

Terangnya : negara dan agama dua hal yang harus dipisah tetapi jangan dibeda-bedakan.

Di samping itu, pntas pula diperhatikan, bahwa di negeri ini banyak pula pemeluk agama-agama lain. Maka dari itu adalah syrat yag mutlak. Untuk menjaga jangan sampai ada pergeseran antara penagnut dari berbagai jenis-jenis agama tadi. Karena pergeseran ini akan melemahkan negara.

Negara Indonesia Merdeka harus pula bersendi atau kerakyatan ; karena suatu suara dan kekuatan rakyatlah yang dalam hakikatnya merupakan tenaga suatu negara.

Sendi perekonomiannya harus berupa kerakyatan pula. Ekonomi kapital harus dibuang sejauh-jauhnya dan diganti dengan ekonomi rakyat. Maka sudah tentu ekonomi desa yang masih mempunyai bentuk kerakyatan itu dihidup-hidupkan dan diperkokoh. Jika desa kokoh kuat, sonnya tentu kokoh juga, son kuat, gun menjadi tegak, ken menjadi subur dan seterusnya negara menjadi makmur.

Jika dalam hal semacam negara, kebangsaan harus diutamakan, begitu pula halnya dalam hal kebudayaan, dan segala cabang-cabangnya.

Kebudayaan harus bersifat nasional, dengan tidak memusuhi kebudayaan lain-lainnya. Tegasnya kebudayaan Indonesia harus berani dan mau mengoper elemen-elemen dari kebudayaan asing untuk memperkaya dirinya. Hal ini pun diseyogyakan oleh Panca Dharma kita.

Bantaran Martoatmodjo

Semarang, 10-5-2605

SINAR BARU, 10 Mei 1945



AGAMA dalam INDONESIA MERDEKA

Tentunya banyak di antara kita sekalian, yang menerima ujar atau pesanan dari orang tua dulu, bahwa – katanya – sebentar setelah Belanda angkat kaki dari Indonesia, kita bangsa Indonesia akan mengalami masa keluhuran dan kejayaan.

Di waktu pemerintahan Belanda dulu, pikiran akan datangnya masa keluhuran dan kejayaan itu tampaknya sangat jauh berhasilnya. Karena yang kelihatan pada orang di waktu itu, kekuatan dan kekuasaan Belanda cukup untuk menghalangi datangnya masa keluhuran dan kejayaan itu.

“Jika Allah menghendaki, tentu dapat mengusir sekalian dan mendatangkan angkatan yang baru. Hal itu tidak sukar bagi Allah”.

Dan masa kejayaan dan kemuliaan sebgaimana yang diramalkan orang tua-tua dulu, telah nyata tanda-tandanya akan datang. Janji Dai Nippon Teikoku tentang akan merdekanya Indonesia nanti, makin lama maki diiringi dengan macam-macam usaha ke arah kemerdekaan yang dijanjikan itu.

Dari pihak resmi beberapa usaha dan persiapan ke arah itutelah digalangkan. Akan tetapi usaha-usaha dan persiapan itu tidak cukup disambut dengan ucapan terima kasih saja. Sebaliknya disamping ucapan terima kasih itu, kita umat Islam Indoesia harus menyiapkan dan membulatkan tenaga kita sendiri guna memiliki kemerdekaan itu.

Chalifah Umar r.a. pernah memarahi seseorang yang menggantungkan nasibnya di dalam mencari rezeki dengan katanya :

“Laa yaq’udanna ahadukum ‘an thalabi’rrizki wayaqulu Allahuma ‘rzukni. Fagad ‘alimtun anna’ssama’a la tumthiru dzahaban walaa fiddaltan”.

“Janganlah salah seorang dari kamu berpeluk tangan tidak mencari rizki, sambil berdoa-doa : Hai Allah, beri saya rizki. Kamu sekalian toh telah mengetahui bahwa langit itu tidak akan menurunkan emas atau perak.

Sekarang pembentukan Negara Indonesia Merdeka sedang diusahakan. Berhubung dengan itu, di sini-sini orang bertanya: Di manakah tempat Agama di dalam Negara Indonesia itu nanti?

Bahwasanya kita bangsa Indonesia sampai pada saat ini masih belum lagi memperoleh kemerdekaan, belum lagi mencapai keluhuran dan kehormatan. Sebab sejak beberapa abad kita diperlemah kaum penjajah dalam lapangan ekonomi, politik dan sosial. Kelemahan dalam tiga lapangan itu ditambah lagi dengan pecah-belah di kalangan bangsa kita.

Hukum alam telah membuktikan, bahwa bangsa yang lemah, pergulatannya di dalam perjuangan hidup senantiasa kandas; usahanya berlumba-lumba dengan bangsa lain senantiasa gagal. Maka untuk memiliki dengan sempurna kemerdekaan Indonesia yang akan datang itu, kita bangsa Indonesia haruslah menjadi bangsa yang kuat. Hal itu dapat dicapai dengan persatuan yang kokoh teguh.

Riwayat kita yang lalu membuktikan bahwa persatuan kita tidak sempurna. Maka untuk menyempurnakan persatuan yang sangat perlu bagi pembentukan Negara Indonesia yang sedang diusahakan itu, menurut pikir kita yang penting dimajukan bukanlah pertanyaan: Di mana tempat Agama di dalam Negara Indonesia itu nanti? Akan tetapi yang penting dimajukan ialah pertanyaan: Bagaimanakah caranya menempatkan Agama di Indonesia Merdeka itu? Saya ulangi lagi: Persatuan bangsa yang kokoh-teguh sangat perlu di waktu ini. Bagaimanakah caranya menempatkan Agama di Indonesia Merdeka, dengan tidak mengendorkan persatuan bangsa yang sangat perlu di waktu ini?

Di dalam sejarah sering kali kita jumpai perselisihan dan perbantahan. Jika kita teliti, tentu terdapat bahwa sebab perselisihan yang asli, biasanya tidak lain daripada sifat fanatik, ta’assub atau kekolotan orang memegangi pahamnya. Dan biasanya sifat fanatik atau ta’assub itu lalu menimbulkan ta’assub atau fanatik dari pihak lawannya.

Islam tidak kenal fanatisme atau ta’assub itu. Ajaran-ajaran Islam menganjuri pemeluk-pemeluknya berpikir dengan sehat dan bebas. Akan tetapi janganlah disangka bahwa dengan perkataan Islam tidak kenal fanatisme, ta’assub atau kekokohan itu, berarti bahwa Islam agama membonceng dan mengamin saja. Di dalam sejarah Rasulullah s.a.w. tidak terdapat kejadian yang menunjukkan ta’assub atau kekolotan beliau. Menghadapi kaum musjrikin-quraisj, beliau tidak pernah mempertengkarkan pahamnya dengan kaum quraisj itu. Tetapi sebaliknya beliau terus menyusun tenaga dan mengatur barisan. Setelah persiapannya sempurna, mau atau tidak mau, lawan-lawan beliau terpaksa takut dan tunduk. Beliau tidak membalas perkataan-perkataan lawannya dengan jawab yang berupa perkataan. Akan tetapi beliau membalasnya dengan perbuatan. Dan tentu saja jawab dengan perbuatanlah yang mendapat kemenangan. Sebab di dalam sejarah belum pernah tersebut ada bangsa yang menang di dalam perjuangan hidupnya dengan bersenjatakan perkataan dan omongan saja.

Kita perlu mempunyai persatuan bangsa yang kokoh-teguh. Lebih-lebih sebelumnya kemerdekaan datang. Maka fanatisme, ta’assub atau kekolotan dari segala pihak jangan dikeluarkan, supaya persatuan bangsa tidak terganggu dan kita tidak menjadi bangsa yang mentah. Kita tidak berkeberatan orang mengemukakan pahamnya. Bahkan orang harus mempertahankan pendiriannya. Hanya saja fanatisme, kekolotan atau ta’assub janganlah dibawa-bawa. Salah satu dari macam-macam paham di Indonesia tentu akan mendapat kemajuan nanti. Bagi penganut paham itu kejadian itu tidak uah jadi kesombongan. Dan bagi penganut paham lainnya tidak usah hal itu menjadikan kecil hati. Sebab paham yang melebihi paham lainya itu bukti, bhwa paham itu kuat. Pengnut-penganutnya banyak berbuat daripada beromong dan berkata.

Di dalam bangsa-bangsa banyak timbul atau tenggelam seperti sekarang ini, marilah kita berdoa, mudah-mudahan Allah s.w.t. menunjuki kita jalan yang benar dan memberi kita kemenangan yang nyata, serta Negara yang makmur, Kuat dan Adil.

A. Wahid Hasjim

ASIA RAYA, 11 Mei 1945



ARTI KATA “MERDEKA”

Di surat kabar ini pada tanggal 16 yang lalu Soomubutyoo menerangkan (menafsirkan) kata “merdeka” yang bunyinya demikian:

“Adapun sampai hari ini disebut orang perkataan “Indonesia Merdeka”.

Tetapi isi sebenrnya daripada kemerdekaan Indonesia ialah “pembangunan negara”. Perkataan “merdeka” itu berarti terbebas daripada satu belenggu. Misalnya “merdeka” dalam hal memerdekakan Indonesia dari penindasan Belanda yang 300 tahun itu benarlah berarti “merdeka” dalam arti semacam itu…

Kemerdekaan Indonesia pada masa ini berasal pada cita-cita Dai Nippon semenjak purbakala dan berarti kita hendak melaksanakan JMM. Teranglah bukan sekali-kali “merdeka” dalam arti membebaskan Indonesia daripada sesuatu belenggu, melainkan adalah “membengun negara”…

Sebenarnya pengumuman dari Pemerintah Agung di depan Balai Perwakilan Kerajaan (7 September 2604) tentang kemerdekaan Indonesia di kemudian hari sudah membawa beberapa pengertian tentang kata Nipponnya “dokuritu” yang di terjemahkan menjadi “merdeka”. Sebagai sering dikatakan arti kata itu sesengguhnya ialah “berdiri sendiri”. Memang, dalam tafsiran Indonesia menurut hematnya “berdiri sendiri” itu juga “merdeka”.

Tetapi menurut paham Nippon “merdeka” dalam arti kata yang lazim dipakai dalam masa Indonesia berjuanh untuk kemerdekaan daripada penjajahan Belanda tidak tepat dipakai di waktu ini lagi. Menurut keterangan pihak Nippon, bangsa Indonesia sudah di merdekakan dalam arti dilepaskan belenggunya daripada sesatu ikatan perbudakan – seperti di masa lalu – sejak waktu Bala tentara Nippon mendarat di Indonesia. Jadi masa berjuang untuk “merdeka” bolehlah dikata sudah tertutup pada waktu itu.

Dan sekarang kita bukan berjuang untuk Indonesia “Merdeka” dalam arti kata yag dimasukkan dalam kamus perjuangan Indonesia di zaman dulu. Kita sekarang “membangunkan negara”, “kenkoku suru” dari perkataan “kentiku” dan “koku” , yaitu “mendirikan, membangunkan, membentuk” “negeri atau negara”.

Memang pada hakikatnya negeri kita akan merdeka dalam arti kata berdiri sendiri, mengurus nasib dan hari-hari yang akan datang dari bangsa dan negara kita sendiri. Dan jika kita mempersoalkan kemerdekaan itu hendaklah kita mengingat bahwa dalam kata ini berarti bahwa kita membangunkan negara dan bukan melepaskan diri daripada sesuatu ikatan yang berupa pembelengguan atau perbudakan. Fase “merdeka” dalam arti kata itu sudah lalu.

Dengan ini sebagai pedoman tidaklah salahnya menyebutkan perkataan merdeka itu, karena kita yakin bahwa juga Indonesia Medeka seperti yang diucapkan oleh mentri-menteri Nippon artinya tidak lain, bahwa Indonesia akan berdiri sendiri sebagai negara merdeka dalam satu lingkungan yang tertentu, seperti Asia Timur.

Jadi kata Soomubutyoo itu kita dapat mngatakan di sini, bahwa perkataan “Indonesia Medeka” atau “Kemerdekaan Indonesia” tidak dianggap salah jika disebutkan, akan tetapi hendaklah jangan disangkutkan sama sekali makna melepakan diri dari belenggu atau penindasan dalam kata-kata “merdeka” atau “kemerdekaan” itu.

Di sinilah terletak sebenarnya pati soal kata-kata ini !

ASIA RAYA, 19 Mei 1945



KEDUDUKAN KAUM PERANAKAN dalam NEGARA INDONESIA

Untuk memudahkan usaha Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan, maka pada hari Selasa tanggal 22 Mei atas usaha Jawa Hookoo Kai Tyuuoo Honbu bagian Kyooka di Hookoo Kaikan Jakarta dilangsungkan pertemuan dengan wakil-wakil dari berbagai-bagai golongan penduduk Jakarta. Pertemuan dipimpin oleh Mr. Sartono, dihadiri oleh P.F. Dahler dari Kaum Peranakan, Oei Tiang Tjoei dan Then Djin Seng dari golongan Tionghoa, A.S. Shahab dari golongan Arab dan wakil-wakil pers dan Hoodoohan.

Maksudnya ialah untuk menyelami lubuk hati ketiga golongan penduduk ini, yang kedudukannya tak dapat dibiarkan begitu saja dalam penyusunan negara Indonesia Merdeka. Merdeka adalah umumnya sebagai juga bangsa Indonesia diahirkan, hidup da akan dikubur di tanah Indonesia, dan selain dari itu dalam tubuh mereka juga mengalir darah bangsa Indonesia.

Di dalam zaman Pemerintah Hindia Belanda mereka mempunyai kemerdekaan yang tersendiri dalam masyarakat, termasuk sebagai rakyat Hindia Belanda, tetapi bukan sebagai bangsa Indonesia. Kecuali dari itu kaum Peranakan dalam undang-undang negeri diakui sebagai bangsa Belanda, tetapi dalam prakteknya, peraturan ini tidaklah berlaku dengan sepenuhnya.

Peristiwa-peristiwa tersebut di atas mempunyai pengaruh besar terhadap susunan masyarakat di masa itu, meskipun banyak di antara golongan-golongan tersebut sudah insyaf, dan mengakui dirinya berbangsa dan senasib dengan bangsa Indonesia.

Dalam pertemuan tersebut di atas, maka hal ini adalah masalah yang sagat penting, terutama dalam menentukan sikap golongan-golongan itu dalam Negara Indonesia, teristimewa dalam menetapkan rakyat negara.

Bagaimanakah kedudukan kaum Peranakan dalam negara Indonesia?

Soal ini adalah soal yang sangat mudah, kata tuan P.F. Dahler.

Ini akan dapat diselesaikan dengan 2 jalan, yakni memberi kesempatan kepada mereka untuk memilih berbangsa Eropa ataukah berbangsa Indonesia. Jika mereka mengakui dirinya berbangsa dan senasib dengan bangsa Indonesia, maka hendaklah mereka diberi kedudukan sebagai bangsa Indonesia dalam negara baru itu. tetapi jika mereka tetap berpendirian berbangsa Eropa, maka naiklah mereka ke atas kapal dan kirimkan ke Eropa, kalau-kalau ada negara di sana yang meu mengakuinya menjadi rakyatnya.

Mengingat dasar-dasar negara-negara di Eropa, maka tak ada kemungkinan ada negara yang menerima kaum Peranakan menjadi rakyatnya.

Oleh karena itu besar pengharapan pembicara kepada segenap golongannya, supaya memperhatikan masalah ini.

Tuan-tuan Oei Tiang dan Then Djin Seng sebagai orang dari golongan yang berdarah Peranakan Tionghoa-Indonesia menyatakan, bahwa mereka juga akan mati dan berkubur di bumi Indonesia, bahkan banyak di antara mereka yang telah turun temurun di sini beratus-ratus tahun lamanya. Tapi walaupun demikian dalam dada kaum Peranakan Tionghoa masih tetap ada perasaan berbangsa Tionghoa. Ini adalah soal yang sulit sekali dalam menetapkan rakyat negara Indonesia di kalangan mereka karena mereka masih mempunyai Tanah Air, tambahan lagi negara Tionghoa tetap mengakui mereka sebagai rakyatnya, walaupun hanya mengalir beberapa tetes darah Tionghoa.

Pembicara percaya, bahwa kaum Peranakan Tionghoa di Indonesia walaupun demikian akan mau menjadi rakyat Negara Indonesia.

Berhubung dengan masalah ini tuan P.F. Dahler mengemukakan, bahwa masalah Peranakan Tionghoa dalam prakteknya berlainan dengan masalah Peranakan Eropa dan Arab, karena tidak ada negara pun yang mau mengakui golongan ini menjadi rakyatnya.

Untuk menyelesaikan masalah ini jika golongan-golongan tersebut tak mau mengakui dirinya berbangsa Indonesia, maka pembicara menganjurkan supaya diadakan sebuah lembaga yang menetapkan penduduk negara (instituut voor onderdaanschap) di sampig lembaga yang menetapkan negara (instituut voor Staatsburgerschap).

Selanjutnya tuan S.M. Ahahab sebagai wakil golongan Peranakan Arab mengemukakan, bahwa golongannya dalam rangka hal ingin bersatu dengan bangsa Indonesia.

TJAHAJA, 26 Mei 1945



WANITA TIANG MASYARAKAT INDONESIA MERDEKA

Untuk perlengkapan kesentausaannya sesuatu negara merdeka, wanita pun adalah tiang masyarakat, yang tak dapat ditinggalkan.

Jika Indonesia Merdeka akan lahir serba kekurangan syarat untuk kedaulatan dan keabadiannya, maka kita para wanita harus merasa wajib dan berhak turut menciptakan segala sesuatu yang kurang itu.

1. Turut menanggung kesempurnaan lapangan pekerjaan.

2. Turut serta dalam langkah usaha tata negara.

3. Menyesuaikan hidup dan penghidupan rumah tangganya sehari-hari, sesuai dengan cita-cita dan keadaan negara.

Kesempurnaan dunia pendidikan yang terutama menjadi kewajiban para wanita, ialah kenang-kenangan (kekudangan, Jawa) atas jiwa putra-putrinya di hari dewasa. Dalam hal ini, para wanita umumnya, Ibu Indonesia khususnya, harus melaksanakan kebijaksanaan seluas-luasnya, jangan sekali-kali kekudangannya hanya ditujukan pada kepentingan dan kehormatan keturunannya belaka. Jadi putra-putranya dididik, dimasak, digembleng, hingga menjadi anggota masyarakat yang dapat dan cakap menduduki sesuatu lapang usaha negara, untuk menutup kekurangan-kekurangan yang masih ada, hingga kesempurnaan rakyat dan negara dapat tercipta, kedaulatan dan keabadian Indonesia Merdeka dapat dijamin.

Selaras dengan langkah pendidikan dalam pasal 1 itu, kita wanita wajib dan berhak pula untuk turut serta dalam lapang usaha tata negara. Suara dan hasrat wanita penting juga di dalam menentukan corak dan ragamnya tata negara Indonesia Merdeka. Sebab apabila kaum wanita terbelakan di dalam susunan tata negara, maka tak mungkin para wanita dapat menyesuaikan pendidikan atas jiwa para putranya, selaras dengan langkah dan tujuan negara.

Selanjutnya, untuk melaksanakan kedua dasar usaha kewajiban di atas, para wanita harus cakap dalam mengatur hidup dan penghidupan rumah tangganya, sesuaidengan tujuan pendidikan dan cita-cita negara.

Sebab, apabila susunan rumah tangga pincang, pendidikan jiwa putranya akan goncang, melangkah ke usaha tata negara pun terhalang, dan akhirnya Indonesia Merdeka akan selalu menderita kekurangan-kekurangan rohani maupun jasmani.

Kesimpulan dari hidangan wanita yang saya kemukakan:

1. Berdirilah para wanita Indonesia untuk menjadi tiang Masyarakat negaramu, dengan menanggung akan kesempurnaan jiwa para putramu di hari dewasanya, selaras dengan hasrat pembentukan negara Merdeka.

2. Berilah kesempatan bagi kaum wanita, untuk turut menentukan corak dan ragamnya tata negara Indonesia Merdeka. Hasrat wanita akan juga turut membawa kesempurnaan negara merdeka, lahir maupun batin.

3. Buktikanlah kedua hasrat kita wanita di atas, dengan jalan menyesuaikan pendirian rumah tangga (hidup dan penghidupan sehari-hari) sepadan dan sederajat dengan pendidikan dan tata negara yang kita tuju.

Nyi Soekarlien Pryosepoetro

Bojonegoro

SOEARA ASIA, 31 Mei 1945



EKONOMI DALAM INDONESIA MERDEKA

Kemerdekaan itu harus bersamaan dengan kemakmuran. Dan kemakmuran kurang sempurna jika tidak merdeka. Yang menjadi pangkal pokoknya kemakmuran itu ekonomi.

Suatu negeri yang ekonominya lemah, keperluan apa-apa harus tergantung dari tempat lain, apa-apa yang dibutuhkan harus didatangkan dari negeri lain, tidak boleh tidak lama kelamaan akan kena pengaruhnya kaum kapitalis. Makin dalam masuknya pengaruh itu, makin terikatlah kita dan dalam hakikatnya kemerdekaan itu bohong belaka.

Jadi ternyata ekonomi itu tulang punggungnya kemakmuran, yang menegakkan dasar kesejahteraan Negara dan Rakyatnya, sehingga hal ini seharusnya oleh kita diliat lebih dalam.

Bagaimanakah keadaan ekonomi kita? Kita bertanya. Ekonomi kita jauh dari sempurna, ekonomi kita masih lemah sekali. Dalam segala lapangan, jika kita berlumba-lumba dengan bangsa lain, selalu kita kalah, senantiasa gagal, sebab perbudakan bangsa Barat telah mendalam sekali, sehingga kemauan kita lemah dan penglihatan kita pendek.

Inisiatif untuk mendirikan pabrik-pabrik, mesin-mesin perusahaan-perusahaan ata apa sahaja yang menujukkan keluhuran suatu bangsa tidak ada. Yang menjadi pangkal pokoknya ekonomi kita yaitu pertanian. 90% dari penduduk Indonesia bertani. Pemerintah yang mengetahui kelemahan ekonomi kita tidak saja mengadakan perubahan-perubahan dan perbaikan-perbaikan dalam pertanian tetapi juga dalam lapangan perindustrian.

Buat negeri agraris seperti Indonesia, perindustrian itu masih ada dalam tingkatan, yang paling rendah, bahkan dalam keadaan permulaan. Pembentukan badan-badan dan kantor-kantor yang harus memberikan penerangan atau tuntunan kepada rakyat adalah bukti yang nyata dalam Pemerintah, guna memperbaiki dan mempertinggi perindustrian kita. Kepandaian membuat bahan pakaian yang dahulu lazim dijalankan oleh nenek moyang kita, bukan sahaja telah bangkit kembali, malah oleh kita boleh dipandang sebagai langkah pertama yang menuju kea rah perindustrian yang besar, perindustrian yang memenuhi kebutuhan masyarakat yang beradab.

Selain itu telah didirikan pula kursus membuat topi bambu, kursus membuat grabah, buat mengganti bahan-bahan impor.

Atas tuntunan Pemerintah itu jangan kita hanya mengucapkan banyak terima kasih di mulut sahaja, tetapi kita harus betul-betul insyaf tentang keadaan dan kedudukan kita. Sehingga dalam dada kita timbul keinginan untuk memperkokoh ekonomi kita dengan berdaya upaya sendiri. Tindakan Pemerintah hanya sebagai perintis jalan sahaja, tetapi selanjutnya kitalah yang harus mengembangkan, sehingga rakyat kita segenapnya dapat merasai buahnya yang lezat.

Dari sekarang kita harus berganti haluan mengikuti kehendak zaman. Pikiran yang bersifat statis harus diubah, sehingga menjadi dinamis. Rakyat kita harus digembleng supaya berpengetahuan luas. Perubahan itu harus jangan ditunggukan sampai Indonesia dibentuk, tetapi dari sekaranglah harus dimulaikan.

Dari sekaranglah harus dipikirkan supaya kekayaan dari negeri kita yang bertimbun-timbun itu bisa dipergunakan oleh kita sendiri. Untuk keperluan itu tentu dibutuhkan tenaga dan orang-orang yang ahli, sedangkan ahli-ahli di golingan bangsa kita masih sedikit sekali. Tetapi jika ahli-ahli itu digabungkan dan tenaganya dikerahkan dan pengetahuannya dipencarkan, niscaya banyaknya bisa bertambah. Dan kita siap bersedia tenaga yang cukup buat dipergunakan kelak.

Kursus-kursus yang perlu sekali misalnya kimia, ilmu alam, listrik, bangun-bangunan, mesin-mesin, ilmu tanah (geologi) harus segera diadakan dengan memakai dua jalan:

a. Yang praktis, dalam tempo yang singkat dan untuk orang-orang yang berpengetahuan rendah.

b. Yang mengenai pengetahuan yang dalam, buat orang-orang yang cukup luas dasar pengetahuannya.

Hal-hal yang disebut di atas itu menurut hemat saya adalah syarat-syarat yang penting untuk memiliki dengan sempurna kemerdekaan Indonesia.

Udi Hardjasasmita

Semarang, 29 Gogatu 2605

SINAR BARU, 1 Juni 1945



MENGHEBATKAN SEMANGAT RAKYAT KE ARAH CITA-CITA


Perkataan Indonesia sebagai nama politik mula-mula dipakai oleh suatu pergerakan politik bangsa kita di Negara Belanda pada kurang lebih 20 yahun yang lalu. Semenjak itu, nama itu diterima oleh pergerakan-pergerakan kebangsaan di Indonesia., yang berdasarkan kepada asas menyusun perlawanan terhadap Belanda dengan tujuan: Mencapai Indonesia Merdeka yang bersatu, berdaulat dan adil.

Sungguhpun cita-cita ini telah dengan sehebat-hebatnya ditanamkan dalam hati rakyat Indonesia oleh pemimpin-pemimpin kita akan tetapi pada sekarang ini ternyata, bahwa sebagian besar daripada rakyat kita masih belum insyaf benar-benar akan cita-cita itu. hal ini disebabkan terutama karena paham ke Indonesiaan adalah paham baru dan keduanya ialah karena tindakan-tindakan pemerintah Belanda, yang dengan daya tipu muslihatnya senantiasa membasmi aliran-aliran yang tertuju kepada persatuan bangsa Indonesia.

Kini cita-cita yang pada kurang lebih 20 tahun yang lalu itu telah berkumandang dalam dada rakyat Indonesia, telah bertumbuh dan menjadi lebih luas dan nyata lagi. Bangsa Indonesia bukan saja berjuang untuk mencapai Indonesia Merdeka, akan tetapi pula untuk menyusun dasar-dasar negara Indonesia Merdeka dan memiliki negara itu. Dari itu di samping berbagai latihan-latihan dann usaha-usaha untuk membela tanah air, memperkuat tenaga ekonomi dan lain-lain sebagainya, maka perlulah dijalankan dengan segera secara besar-besaran penerangan tentang cita-cita bangsa kita. Perhatian kita pada waktu ini ialah pertama-tama harus kita pusatkan dan kita curahkan kepada usaha menginsyafkan rakyat. Alam pikiran rakyat Indonesia yang selalu terkukung dan tertekan selama 300 tahun itu haruslah kita “buka”. Paham-paham yang seakan-akan masih berlaku pada zaman ratusan tahun yang lalu harus kita ganti dengan paham baru, yaitu paham ke-Indonesiaan, yang menuju ke arah negara kebangsaan Indonesia.

Dalam menjalankan propaganda memperhebat semangat rakyat secara besar-besaran itu, menurut paham kami adalah beberapa hal yang senantiasa meminta perhatian kita sepenuh-penuhnya, yaitu:

1. Isi propaganda itu harus meliputi segala sesuatu yang mengenai cita-cita rakyat kita, atau lebih tegas: asas kehidupan bangsa Indonesia dalam mencapai dan memiliki Indonesia Merdeka harus digambarkan dan ditegaskan seluas-luasnya dan sebulat-bulatnya.

2. Cara memberi peperangan kepada rakyat baik dengan jalan surat-surat kabar, radio atau dengan jalan propaganda harus dibikin sesederhana-sederhananya, sehingga dengan gampang dapat diterima dan dimengerti oleh rakyat jelata.

3. Bentuk rakyat di Jawa, rakyat Indonesia di lain-lain kepulauan perlu pula dipimpin dan dituntun ke arah tujuan yang sama.

4. Yang menjalankan propaganda haruslah dipilih dari antara mereka yang sungguh-sungguh dalam hatinya berkobar-kobar cita-cita kemerdekaan Indonesia. Sebab tiap-tiap usaha menyemangatkan rakyat senantiasa akan gagal di tengah jalan, selama segala apa yang didengarkan oleh rakyat tidak ke luar dari hati si pemimpin.

Maka jikalau dengan jalan demikian dari sedikit demisedikit di kalangan rakyat telah tertanam “Sura Umum” yang tertuju ke arah Indonesia merdeka yang kekal dan abadi, maka akan lenyaplah alam pikiran rakyat yang telah lapuk itu. Semangat ke daerah-daerahan akan mati dengan sendirinya dan diganti oleh semangat yang bulat dan satu, yang dapat menyelami hati seluruh rakyat Indonesia. Dan jika keadaan ini telah tercapai, maka bentuk Indonesia Merdeka di kemudian hari bukanlah menjadi soal bagi kita lagi. Sebab hanya suatu bentuk yang berisi semangt rakyat seluruh Indonesia, yang dapat diterima oleh rakyat itu sendiri.

Ir.Sakirman

ASIA RAYA, 1 Juni 1945


LEKAS MERDEKA

Sidang yang pertama dari Badan Penyelidik telah selesai. Pernyataan ketetapan hati para nggota telah diumukan. Tetap hati berjuang untuk kemerdekaan, di muka mata musuh, disaksikan oleh dunia.

Tetap hati untuk mentapkan Indonesia satu. Indonesia yang terdiri dari beribu kepulauan dan berpenduduk 70 juta jiwa ini. Indonesia satu yang tidak boleh dipisah-pisahkan dan tidak boleh dikurang-kurangkan. Tak boleh, meskipun sejengkal daerah pun juga. Dikurangkan, dan di beri nama “Hindia Belanda” atau lain-lainnya.

“Indonesia satu”, Negara Merdeka, dalam lingkungan Asia Timur Raya. Tak sudi menjadi “Negeri mandat” – Sekutu. Jika tak merdeka, lebih baik mati !

Begitulah arti ketetapan para Iin, dalam melakukan kewajibannya. Karena telah dikirimkan kawat pula kepada Panglima Tentara Darat serta Tentara Laut yang kini sedang berjuang mati-matian mempertahankan Tarakan, Morotai dan Papua dari penyerbuan musuh, – untuk menyatakan terima kasihnya, dan kesanggupan berdiri di belakangnya dengan sepenuh tenaga.

Badan Penyelidik kewajibannya menyelidiki, menyampaikan pelaporan kepada Pemerintah Tinggi.

Jadi, apa yang dinyatakan oleh Badan Penyelidik itu bukan suara hati dari anggota sendiri, melainkan suara hati kita sekalian, seluruh Rakyat Indonesia yang telah diselidikinya.

Apa yang dijanjikan oleh Badan Pnyelidik itu, kita sekalianlah yang harus menepatinya. Menetapi, lebih baik mati daripada dijajah lagi. Menetapi berjuang mati-matian di hadapan mata musuh. Menetapi, berdiri di belakang Tentara Dai Nippon dengan sepenuh tenaga dan lain-lainnya.

Ini semua harus kita catat, kita ingati selama-lamanya, tidak berubah karena pasang surutnya peperangan, tidak tergoyang karena muslihat, tipu daya musuh. Ya, karena tercapai dan tidaknya Indonesia Merdeka, lebih banyak tergantungnya pada pertanggungan jawab kita bersama.

Sidang pertama selesai, artinya kini Badan Penyelidik baru mulai bekerja yang seresmi-resminya, mengadakan penyelidikan dan pelaporan. Sesudah itu tentu lantas akan diadakan sidang pula.

Badan Penyelidik, anggotanya masing-masing, tentu akan datang pada kita – Rakyat Murba – untuk menyelidiki menanyakan, apa keinginan kita dan apa pula kesanggupan kita. Dalam macam-macam perkara, yang mesti ada dan perlu, pada pembentukan Negara Merdeka.

Jika boleh kita kemukakan, keinginan Rakyat Murba itu, adalah sederhana sekali.

Lekas-lekaslah Merdeka! Dan boleh diminta segala apa yang ada pada kita, untuk mempertegak Kemerdekan itu! Soal-soal lainnya yang sulit-sulit terserah pada kebijakan Pemerintah dan pada kecakapan kaum cerdik pandai, asal bersih!

Lekas-lekas Merdeka! Bukan karena ingin dapatkan penghidupan mewah, melainkan karena ingin mencurahkan segenap tenaga yang tidak alang – kepalang lagi, dan ingin melaksanakan pekerjaan-pekerjaan yang besar pertanggungan jawabnya.

M.I.Sj.

SINAR BARU, 4 Juni 1945



INDONESIA MERDEKA SELEKAS-LEKASNYA

Indonesia merdeka harus dilaksanakan selekas mungkin oleh rakyat Indonesia dengan bantuan pemerintah Agung Dai Nippon Teikoku, sebab:

1. Pemerintah Agung menanti-nanti benar lahirnya Indonesia Merdeka.

2. Rakyat Indonesia rindu dendam akan Merdeka secepat-cepatnya.

3. Keadaan peperangan bertambah genting; musuh telah mulai memasuki Tanah Air kita, meskipun hanya baru di perbatasan (Morotai,Tarakan).

Indonesia Merdeka akan berjuang dan berkurban berlipat ganda lagi daripada Indonesia sekarang; ini ialah hal yang pasti menurut ilmu jiwa.

Ini akan berarti perkuatan tenaga perang Asia Timur Raya yang tiada terhingga.

”Badan Penyelidik” jangnlah membuang tempo dengan merenungkan soal-soal detail. Pikirkan dan selesaikan soal-soal pokok.

Pengendalian sejarah menyuruh kita bukan membentuk tata negara yang sesempurna-sesempurnanya seperti diwaktu damai, tetapi tata negara yang cukup patut disiapkan dimasa perang. Negeri-negeri yang dimasa damai mempunyai tata negara yang selengkap-lengkapnya pun menyederhanakan tata negara ini di masa perang.

Maka lebih-lebih lagi kita, yang sedang berikhtiar membangunkan tata negara yang sempurna-sempurnanya seperti di waktu damai, tetapi tata negara cukup patut disiapkan di masa perang. Negeri-negeri yang di masa damai mempunyai tata negara yang selenggap-selengkapnya pun menyederhanakan tata negara ini di masa perang.

Janganlah kiranya ”Badan Penyelidik” bertindak sebagai ”Commissie Visman” di zaman Belanda, yang memakai tempo lama sekali dengan menyusun laporan-laporan yang panjang lebar, akan tetapi sedikit pun tidak mengenai usul untuk pelaksanaan, untuk usaha yang nyata.

Pemerintah Balantentara Dai Nippon pun mendirika pemerintah di Jawa ini tidak dengan penyelidikan soal-soal yang bukan pokok. Filipina mencapai kemerdekaannya tidak dengan penyelidikan yang memakan tempo setengah tahun atau lebih; demikian pula halnya dengan Birma.

Adapun soal-soal pokok yang kami maksudkan itu ialah:

1. Pembentukkan Negara

2. batas Negara;

3. rakyat Negara;

4. jenis pemerintah Negara.

II. Pengakuan oleh negara-negara lain.

III. Langkah-langkah pertama dari pemerintah Kebangsaan Indonesia.

Ad. I. Hal ini ditetapkan dalam Undang-Undang Dasar (Grondwet).

1. batas negara (kepulauan Indonesia).

2. rakyat Indonesia, ialah: penduduk Indonesia asli dan bangsa asing yang oleh pemerintah Kebangsaan dianggap sebagai orang Indonesia.

3. pemerintah Negara: selama perang pemerintah kebangsaan Indonesia berbentuk ”republik”, oleh karena inilah yang tersedikit menimbulkan soal-soal; sesudah damai barulah boleh dipergunakan tentang bentuk lain.

a. Presiden (wali Negara) diangkat oleh badan Perwakilan Rakyat;

b. Presiden membentuk pemerintah, terdiri dari perdana Menteri dan menter-menteri yang diangkat olehnya:

c. Tyuuoo Sangi In di Jakarta oleh Undang-undang dasar ditetapkan menjadi Badan Perwakilan Rakyat.

4. Pemerintah kebangsaan Indonesia mengganti pemerintah Balatentara Dai Nippon.

Pemerintah Indonesia mengadakan perjanjian dengan pemerintah Dai Nippon Teikoku tentang pembelaan Negara dan lain-lain soal yang perlu.

5. Semua undang-undang pemerintah Balatentara Dai Nippon dan peraturan pemerintah Balatentara (untuk sementara waktu) berlaku terus hingga waktu digantinya oleh pemerintah kebangsaan Indonesia.

6. Sehabis perang diadakan Pembahuruan Undang-Undang Dasar.

Ad. II. Berusaha dengan bantuan Dai Nippon Teikoku untuk mendapat pengakuan dari negara-negara lain.

Negara-negara Asia Timur Raya telah mengumumkan janji akan membantu Indonesia Merdeka, jadi pastilah akan mengakui juga Negara Indonesia sebagai negara merdeka.

Ad. III. Apa yang Pemerintah Kebangsaan kemudian akan perbuatan dengan sendirinya terserah padanya.

Tindakan permulaan yang penting-penting menurut hemat kami ialah:

1. Jabatan pemerintah yang dapat dipangku oleh orang Indonesia diserahkan kepadanya – persiapan semacam ini sekarang sudah dapat dikerjakan oleh pemerintah Balatentara Dai Nippon -, dan bila dipandang perlu oleh pemerintah Kebangsaan, di sampingnya seorang Nippon sebagai penasihat.

Bila kiranya untuk sesuatu jabatan belum ada orangnya dari bangsa Indonesia yang cakap memangkunya, Pemerintah kebangsaan mengangkat orang Nippon di Indonesia yang ditunjuk oleh Duta Pemerintah Dai Nippon Teikoku di Indonesia; di sampingnya diadakan wakilnya seorang Indonesia yang secepat mungkin kemudian akan dapat menerima jabatan tadi.

2. Memperkuat pembelaan Negara;

1. Memperkuat dan memperluas Tentara Peta.
2. Barisan-barisan pembantu (Suisintai, Keiboodan, Seinenden, Barisan Rakyat) diatur dalam gabungan atas pimpinan yang bersatu, misalnya menurut daerahnya: Kentyoo – Syuutyookan – Menteri Urusan dalam Negeri.

3. Pemerintah Kebangsaan membentuk panitia-panitia ahli untuk mengusulkan hal-hal yang dapat membawa usaha Pemerintahan Kebangsaan ke arah kemajuan, misalnya tentang:

1. pangreh – pradja
2. polisi
3. pengadilan
4. perekonomian
5. pengajaran
6. kesehatan
7. hukum
8. teknik

Dengan penyuluh panitia-panitia ahli tadi Pemerintah kebangsaan lambat laun akan dapat memperbaiki dan menyempurnakan kekurangannya.

Pemerintah Balatentara pun sampai sekarang bertindak demikian.

Dengan tindakan-tindakan semacam ini, dengan cepat kita dapat melaksanakan idam-idaman Indonesia Merdekayang dengan gembira (”mit Enthusiasmus”) akan melipatgandakan tenaga perang sekarang untuk kemenangan akhir.

Soenaria

(Prof. Ekonomi Kenkoku Gakuin)

ASIA RAYA,9 Juni 1945



JUGA BANGSA TIONGHOA MENANTI KEMERDEKAAN INDONESIA


Dalam permakluman PYM Saikoo sikkan yang telah diucapkan kepda segenap Rakyat Indonesia itu tentag Persiapan Kemerdekaan Indonesia, sampailah kita kepada puncak peristiwa, ialah puncak kepuasan hati kita di mana ketangkasan Balatentara Dai Nippon dan kebijaksanaan Badan Pemerintahannya, tidak saja Indonesia terbebas daripada penjajahan Amerika, Inggris, dan Belanda, akan tetapi juga Indonesia akan dimerdekakan – yakni Kemerdekaan Indonesia yang diidam-idami oleh segenap rakyatnya sedari berpuluh-puluh tahun yang lampau. Kini teranglah sudah mengapa Dai Nippon mengangkat senjata dan berperang melawan musuh-musuhnya, karena Dai Nippon tidak saja semata-mata bermaksud ingin meruntuhkan kekuatan Sekutu di seluruh Asia Timur Raya, akan tetapi juga kehendak mendirikan Lingkungan Asia Timur Raya, dan Kemakmuran Bangsa yang kekal, abadi, kokoh, dan sentosa, serta pun juga tidak terbudak oleh bangsa-bangsa yang semata-mata ingin menarik keuntungan dan hidup dalam kemewahan di dalam Tanah tumpah darah kita, ialah Indonesia khusnya dan Asia seumumnya.

Kini setelah kekuasaan Imperialisme Barat itu dapat dihancurkan oleh Dai Nippon, maka mulailah tercipta Dunia Asia yang baru serta beberapa karunia kepercayaan, teristimewa yang telah dilimpahkannya kepada Indonesia, ialah akan diberi Kemerdekannya – suatu Kemerdekaan yang berdasar atas Hakko Itiyu.

Indonesia bahagia!

Akan menyambut pengumuman PYM Saikoo Sikikan yang telah mendapat perhatian sekhidmat dan suci oleh para Rakyat Indonesia khususnya dan bangsa Tionghoa umumnya, maka marilah kita menoleh lagi ke isi maklumat tersebut yang terdiri daripada tiga Tindakan Pertama Untuk Persiapan Kemerdekaan itu.

Dalam pidato radio Gunseikan Kakka tentang “Apakah yang menjadi dasar sifat negara baru itu yang mana juga ada bertalian dengan pengumuman PYM Saikoo Sikikan, beliau telah menjelaskan seterang-terangnya betapa dan apa yang mungkin menjadi dasar atas Kemerdekaan atas suatu Negara. Dengan berdasar atas bunyinya suatu peri bahasa Nippon katanya “ Sebelum melahirkan anak haruslah lebih dulu diberi derita kesakitan yang maha hebat”.

Selanjutnya dengan perkataan pendek beliau telah menerangkan : dasar sifat negara baru ialah negara yang menjadi Anggota dalam lingkungan Kemakmuran di Asia Timur Raya dan yang berdasarkan peri kemanusiaan, yaitu dalam arti yang luas, peri kebangsaan. Tegasnya, suatu negara yang diwujudkan berdasar atas peri kemanusiaan. Tujuan peperangan Asia Timur Raya ini memang berdasar peri kemanusiaan dan bermaksud membebaskan segenap bangsa Asia daripada penidasan Bangsa Barat. Oleh karena itu terang sekali bahwa negara-negara yang diwujudkan setelah peperangan Ini, tentu saja semuanya mempunyi sifat yang sesuai dengan syarat yang tersebut di atas tadi. Lagipula negara yang berdasarkan peri kebangsaan itu adalah anggota di dalam lingkungan Kemakmuran di Asia Timur Raya.

Adapun lebih tepat lagi, jika hendak dibilang bentuknya Kemerdekaan Indonesia itu harus dapat dilaksanakan atas dasar “Panca Dharma” atau Kelima Pedoman Hidup Bangsa Indonesia dari P.t. Ir. Soekarno, sesuai dengan Gerakan Hidup Baru yang kini sedang dilakukan oleh segenap penduduk Indonesia dan bansa Tionghoa khususnya. Terutama dalam pada tindakan yang ke dua dari pengumuman PYM Saikoo Sikikan, soal mendirikan Kenkoku Gakuin, hendaknya di dalam mana juga bisa dapat dipelihara dan dididik para Angkatan Muda Indonesia yang seoalah-olah merekalah akan menjadi bibit untuk di kemudian hari sebagai Pemimpin Negara dan Kebangsaan Indonesia khususnya dan Asia umumnya. Kini setapak-demi setapak tertampaklah cuaca terng dari Kemerdekaan Indonesia tepat di tengah-tengah keteguhan batin dan ketetapan hati para Putra dan Putri Asia di mana sedang didorong-dorong perjuangannya dan dikobar-kobarkan semangatnya untuk mencapai kemenangn akhir dan Indonesia Merdeka. Maka dari itu, buktikanlah kita bangsa Indonesia umumnya dan Tionghoa khususnya bahwa di dalam tubuh kita masih menglir darah kestaria untuk menderita sakit sebagaimana peri bahasa Nippon yang diucapkan oleh Gunseikan Kakka dan selanjutnya sanggup mempertahankan dan membela keluhuran dan keutamaan derajat dan bangsanya.

Kemerdekaan Indonesia sangat dinanti-nanti oleh 800.000 Rakyat Tionghoa di pulau ini.

Siem Bian Sun, Bandung

ASIA RAYA, 28 Juni 1945

 


KONSEP ANGKATAN BARU INDONESIA HARUS DIMUSYAWARAHKAN!


Tulisan dalam Asia Raya tanggal 15 dan 16 bulan Juni tentang “Angakatan Baru mempunyai juga satu konsep” pasti mendapat perhatian umum dimana-mana terutama perhatian Angakatan Baru sendiri. Jelaslah bagi seluruh Angkatan Baru apa yang menjadi hajat kehendaknya sendiri yang selama ini baru dapat dirasakan tapi belum dapat dibikin tegas dan jelas.

Jelaslah sudah bagi seluruh masyarakat, bahwa Angkatan barulah yang ternyata bisa menjadi benteng baja daripada Ideologi Rakyat, yang bisa mempertahankannya hingga saat puncak kegentingan pergolakan perang dunia seperti dewasa ini. Berbahagialah seluruh masyarakat, berbahagialah seluruh Tanah Tumpah Darah yang sudah memiliki Angkatan Baru sedemikian rupa.

Tetapi, Angkatan Baru bukan hanya satu dua orang atau segerombolan manusia di satu kota atau daerah saja. Angkatan Baru adalah meliputi seluruh generasi baru yang bertebaran di segenap pelosok persada Tanah Air. Dan suara Angkatan Baru tidak pula dapat diwujudkan dengan satu artikel saja, apalagi artikel yang tidak tentang asal usuknya bagi umum. Suara Angkatan Baru ialah suara Angkatan Baru, ia meliputi hasrat kehendak sesuatu generasi daripada Tanah Tumpah Darah.

Biarpun artikel yang mengenai konsep Angkatan Baru yang tersebut di atas sudah memberikan wujud dan tujuan daripada jiwa radikal, ekstrim-revolusioner daripada Angkatan Baru, tetapi dalam arti kata diplomatik, dalam mana Angkatan Baru sudah mulai menjadi faktor, tulisan itu belum besar artinya. Ia baru merupakan satu tulisan daripada seorang ahli pengupas jiwa angkatan sekarang. Sampai ke mana kesanggupan seorang melakukan dia punya kupasan kenyataanlah yang bisa memberi batas, dan kenyataan hanya ada pada yang berkepentingan, yaitu pada Angkatan Baru sendiri. Bukankah besar kemungkinan, bahwa hasrat kehendak serta gelora jiwa Angkatan Baru jauh lebih hebat daripada yang sudah digambarkan itu?

Maka itu tepat sekali kalau seluruh Angkatan Baru Indonesia di semua daerah mengambil tindakan bersama, mengadakan kata sepakat dalam menentukan kebulatan tekadnya kesatuan ideologi dan persamaan strategi perjuangan. Hanya dengan tekad yang bulat, ideologi yang satu dan strategi perjuangan yang sama dapat memudahkan seluruh masyarakat atau Angkatan Baru khususnya dalam mengadakan tindak serentak yang dituntut oleh kegentingan masa.

Semuanya ini hanya dapat dijalankan dengan melalui satu permusyawaratan, satu Kongres Angkatan Baru Indonesia.

A.D. Nusantara

ASIA RAYA, 30 Juni 1945



Last Updated on Monday, 09 August 2010 03:17
 


Powered by Joomla!. Designed by: gallery2 hosting reseller vps Valid XHTML and CSS.